Demi Nasab

“Anak ini persis Abi-nya,” ibu mertuaku membawa bayi yang baru lahir itu ke pangkuanku.

“Kamu yang harus merawatnya. Kamu ibunya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku terperangah. Bagaimana Ummi setega ini padaku dan istri suamiku yang satunya?

“Apapun yang sudah berlangsung, di rumah ini tetap kamulah menantu utama. Anak ini adalah anak suamimu. Anakmu. Kamu yang harus membesarkannya. Ia harus dibesarkan oleh seorang ibu yang nasabnya terkemuka, yaitu kamu.”

“Anak ini ada umminya sendiri, Ummi. Berdosa jika kita memisahkan kasih sayang seorang anak dengan ibunya,” kataku dengan suara bergetar.

Sungguh aku merasa emosional. Bagaimana Ummi bisa sediktator ini? Ummi menyakiti dua perempuan sekaligus, aku dan ibu anak ini. Dan Ummi adalah seorang perempuan pula. Bagaimana seorang perempuan tak melindungi hati sesama perempuan?

Aku tiba-tiba ingin bertemu gadis itu, maduku. Aku ingin mendengar suara hatinya, meski suara hatiku sendiri tak ada yang mau mendengar.

Dan suamiku? Kau ingin tahu bagaimana sikap suamiku dengan skenario baru ibunya?

“Ummi lebih tahu yang terbaik untuk kita, ikuti saja maunya. Bukankah seharusnya kamu senang jika Ummi menyuruhku menceraikan gadis itu karena keinginan keluarga ini sudah tercapai?”

Rasa-rasanya aku melihat suamiku seperti monster tak berperasaan. Ia tak punya hati. Tak menghargai perasaan dan naluri seorang perempuan, seorang ibu. Bagaimana seorang gadis muda melahirkan bayi kemudian dipisahkan dengan bayinya?

***

Aku hanya tahu gadis itu diungsikan entah ke mana. Mungkin dipulangkan ke rumah orang tuanya. Dan sudah umum bahwa keluarga masyarakat kebanyakan tak akan mudah punya keberanian untuk melawan keluarga kiai pesantren.

Aku tak sempat bicara dengan gadis itu. Aku dipaksa untuk sibuk dengan bayi baru. Bayiku, kata Ummi. Apakah Ummi berpikir bahwa menantu sahnya yang satunya itu adalah mesin produksi anak? Sebuah pabrik? Betapa tak manusiawinya jika seorang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, darah dan daging, serta hati hanya dianggap sebagai mesin pembuat anak.

***

Dan kini suamiku meninggal. Meninggalkan balita yatim dalam pengasuhanku. Lelaki mungil dalam pangkuanku ini dianggap sebagai calon penerus pesantren. Penerus kepemimpinan abahnya. Sebab semua adik suamiku adalah perempuan.

Saat ini pengasuh utama adalah Ummi mertuaku sebagai pengganti Abah yang meninggal belasan tahun lalu. Sekaligus, pengganti suamiku yang memiliki kebijakan tertinggi semasa hidup.

“Jika kamu berencana menikah lagi entah dengan siapa pun, tinggalkan anak itu di sini dan pergilah mengikuti takdirmu,” kata Ummi.

Rasanya aku ingin diam-diam pergi membawa balita ini. Meski bukan untuk menikah lagi. Agar Ummi tahu bahwa takdir bukan di tangannya.

Sumber ilustrasi: pinterest.

Tinggalkan Balasan