Demi Nasab

Suamiku menikah lagi. Karena aku tak sudi memilihkannya istri, maka Ummi mertua, ibunya yang memilihkan untuknya. Seorang santri kami.

Ia cantik, muda, dan segar. Dan tentu ia maupun keluarganya tak akan berani menolak pinangan kiai. Kiai adalah raja bagi masyarakatnya. Segala dawuhnya dianggap titah. Apalagi ini titah langsung dari Nyai Sepuh, mertuaku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Rumah kami yang besar dan megah memiliki banyak kamar tidur untuk tamu. Sering ada kerabat jauh yang menginap. Tapi kali ini tamu istimewa yang baru datang bukan untuk menginap sehari dua hari. Ia adalah santriwati yang kini sah menjadi istri suamiku.

Sebenarnya aku sudah meminta izin untuk pergi barang dua tiga hari agar suamiku leluasa berbulan madu dengan istri barunya di rumah ini. Tapi suamiku melarang.

“Kamu pemilik istana ini. Kenapa kamu harus pergi?”

Aku tak menjawab.

“Tinggallah. Jangan ke mana-mana. Sudah kukatakan berulangkali. Ini hanya untuk mendapatkan keturunan. Aku tak mencintai gadis itu. Aku mencintaimu seperti selama ini.”

Aku tak jadi pergi. Tapi bagaimana kira-kira akan kugambarkan perasaanku ketika imajinasiku melayang memikirkan suamiku ada di salah satu kamar pengantin, dalam rumah yang sama dengan yang kuhuni, dan di dalam kamar itu sedang berlangsung sebuah pesta cinta yang baru?

Untuk apa kiranya cinta tetap bercokol dalam diri seorang lelaki jika tubuh dan pikirannya sudah terbagi dengan nama lain selain istrinya? Bukankah ini semacam perselingkuhan yang disahkan secara agama dan negara?

Tahukah kamu apakah makna selingkuh itu? Selingkuh itu berpaling pada nama lain, menyeleweng. Tak peduli cinta diucapkan dengan berbusa-busa. Faktanya adalah suamiku bercumbu mesra secara sah dengan perempuan lain. Dengan istri barunya yang tak berani menatap mataku.

***

Aku memilih tak keluar kamar sama sekali. Aku tak bisa bersikap munafik dengan menampakkan ekspresi wajah biasa-biasa saja, misalnya. Para khadimah yang melayani makanku dan keperluan harianku tampak lebih menunduk dari biasanya. Seolah mereka tak sanggup melihat wajahku.

Aku memilih tak berkata apa-apa pada mereka. Pun pada mertuaku yang menjadi sutradara dari peristiwa besar ini.

“Perempuan itu takdirnya menerima nasib, tidak memiliki hak untuk tawar menawar dengan nasibnya. Bersabarlah.”

Begitulah mertuaku. Ia pun dipoligami di masa lalu. Bukan dengan santrinya seperti halnya aku hari ini. Ibu mertuaku dipoligami dengan khadimah keluarga, pelayan yang mengurusi kebutuhan sehari-hari keluarga diangkat derajatnya menjadi istri kedua kiai, yaitu Abah mertuaku. Dan ibu mertuaku menganggapku harus sama seperti dirinya, menerima takdir sebagai nasib tanpa tawar menawar lagi. Kanaah. Nrimo ing pandhum.

Untuk apa aku berbantah-bantah dengan mertuaku? Di sini aku ikut suamiku sebagai menantu tertua. Suamiku adalah putra mahkota di istana ini. Karena itulah keturunannya tidak boleh putus. Harus ada pewaris sebagai penerus. Harus memiliki dzurriyyah.

***

Entah kenapa santriwati maduku itu jarang sekali keluar kamar. Dan aku sendiri tak merasa perlu untuk mengetahui keadaan dan keberadaannya. Tak ingin bertemu ekspresi dengannya. Apakah ia merasa bersalah? Aku tak peduli. Ia juga korban di sini. Korban keegoisan orang-orang yang merasa paling tahu tentang takdir terbaik. Bahwa takdir terbaik harus punya anak jika kamu adalah permaisuri seorang raja. Jika kamu istri seorang pemimpin, kamu harus memiliki keturunan. Tidak boleh tidak.

***

Tinggalkan Balasan