Di pojok rak kayu yang mulai lapuk oleh waktu, sebuah kitab kuning bersampul cokelat tua tergeletak tenang. Di balik halaman-halamannya, tersimpan jejak tinta perjuangan seorang anak muda yang pernah menghabiskan malam-malamnya di bawah temaram lampu minyak. Ia bukan siapa-siapa, kecuali seorang santri yang berangkat ke pesantren membawa satu koper, dua lembar sarung, dan doa seorang ibu.
Menjadi santri bukanlah pilihan yang populer di tengah gempuran dunia modern. Saat teman sebaya sibuk dengan sekolah formal, gadget canggih, dan mimpi menjadi selebgram, ada sebagian anak muda yang justru memilih mondok. Tidur beralaskan tikar, bangun sebelum subuh, dan menghafal matan dalam bahasa Arab gundul yang tak semua orang bisa mengerti.

Mereka tidak dibayar. Mereka tidak tampil di media. Tapi mereka tetap bertahan. Mengapa?
Karena di balik kehidupan sederhana itu, ada cita-cita besar yang tak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata, ingin menjadi orang yang berguna untuk agama, bangsa, dan orang tua.
