Dibangun, Pusat Kajian Islam Asia Tenggara Gus Dur 

“Alhamdulillah, baru sekarang kami bisa mulai mewujudkan keinginan Gus Dur tersebut,” imbuhnya.

Diperkirakan, pembangunannya memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Gedung pusat kajian ini dibangun di atas lahan seluas 1.672 meter persegi. Bangunan akan terdiri dari empat lantai, yang berisi musem dan diorama Gus Dur, perpustakaan, dan fasilitas lain untuk kajian dan penelitian tentang Islam di Asia Tenggara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu putri Gus Dur, Alissa Wahid, menjelaskan latar belakang pemikiran Gus Dur untuk membangun kajian Islam Asia Tenggara ini. Menurutnya, mengutip pemikiran Gus Dur, di masa depan, peradaban dunia Islam akan disokong oleh dua pilar utama.

“Pilar pertama adalah corak Islam Arab atau Timur Tengah yang homogen. Sedangkan, yang pilar kedua adalah Islam Asia Tenggara, terutama Islam Nusantara, yang heterogen. Nah, pusat kajian Islam Asia Tenggara ini untuk memperkuat pilar kedua tersebut,” jelas Alissa Wahid.

Di kawasan Timur Tengah, Alissa menambahkan, penyebaran Islam dilakukan melalui perang, penaklukan, dan pemaksaan. Sementara, di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, penyebaran Islam melalui jalan budaya seperti yang dilakukan Wali Songo.

Tinggalkan Balasan