Digital Amnesia: Ancaman di Balik Gawai Santri Saat Liburan

Libur semester telah tiba. Bagi para santri, momen ini menjadi waktu yang dinantikan untuk melepaskan penat dari padatnya aktivitas mengaji dan sekolah. Namun, di balik kebebasan masa liburan, ada satu tantangan besar yang mengintai tanpa disadari: intens tingginya interaksi dengan gawai yang berisiko memicu digital amnesia.

Ketika berada di pondok pesantren, penggunaan gawai dibatasi secara ketat demi menjaga fokus ibadah dan belajar. Namun, saat libur semester seperti sekarang, gawai kerap berbalik menjadi menu utama harian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berdasarkan data empiris dari studi kasus yang saya lakukan pada santri MTs NDM Surakarta, ditemukan bahwa sebanyak 69,3% santri menghabiskan waktu di depan layar lebih dari 3 jam per hari selama masa libur. Mirisnya, platform yang paling sering diakses (69,2%) adalah media sosial berbasis video pendek yang cepat berganti.

Meskipun data ini diambil dari ruang lingkup kecil melalui studi kasus terhadap 13 santri di MTs NDM Surakarta, angka-angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai statistik mati. Sebaliknya, ia adalah fenomena gunung es.

Jika di satu madrasah saja tingkat paparan layar mencapai 69,3% selama liburan, sangat mungkin pola yang sama sedang terjadi pada ribuan santri lain di seluruh Indonesia yang saat ini sedang menikmati libur semester mereka. Angka 13 ini adalah alarm dini bagi dunia pesantren.

Pola konsumsi digital yang serbacepat ini tidak bisa diremehkan. Karakteristik media sosial modern dirancang untuk membanjiri otak dengan stimulus visual instan yang memicu kepuasan cepat. Akibatnya, otak santri terbiasa melakukan scanning informasi sepintas kilat, bukan encoding atau menyimpan informasi secara mendalam ke dalam memori jangka panjang. Dari sinilah gejala digital amnesia—atau Google Effect—mulai mengikis kapasitas kognitif para santri.

Kerancuan Kognitif dan Tradisi Hifdz

Pesantren adalah institusi yang merawat tradisi kekuatan hafalan (hifdz) dan kedalaman analisis teks klasik. Digital amnesia secara perlahan merusak fondasi ini. Karena terbiasa mengandalkan internet untuk mencari jawaban instan, kemampuan retensi informasi biologis pada otak manusia mengalami penurunan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan