Sore itu, halaman ndalem seorang kiai sepuh di pinggir kota Jember terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil berpelat luar daerah terparkir rapi. Sandal berjajar memenuhi teras. Di ruang tamu gelas-gelas kopi hitam terus berdatangan silih berganti, seakan dapur tak pernah berhenti bekerja.
Kang Ibnu duduk di pojok depan kamarnya yang dekat dengan ndalem. Ia memperhatikan satu per satu tamu yang datang. Ada yang membawa buah tangan. Ada yang membawa map yang mungkin isinya proposal. Ada pula yang duduk hanya berniat silaturahmi. Setidaknya begitu yang mereka katakan.

Di sela percakapan yang terdengar hangat itu, Kang Ibnu tersenyum kecil.
Muktamar memang belum dimulai. Tetapi tanda-tandanya sudah terasa di mana-mana. Orang-orang yang bertahun-tahun sibuk dengan urusan masing-masing mendadak memiliki waktu luang. Mereka yang awalnya sulit dihubungi kini sangat responsif. Mereka yang lama tidak terlihat dalam kegiatan organisasi, tiba-tiba hadir hampir di setiap forum. Seolah-olah ada kekuatan misterius yang membangunkan cinta pada organisasi.
“Cinta datang lima tahun sekali,” gumam Kang Ibnu sambil menyeruput kopi.
Ia tidak sedang sinis. Ia hanya sedang mengamati fenomena yang terus berulang. Sebab setiap kali muktamar mendekat, organisasi berubah menjadi magnet besar yang menarik banyak kepentingan ke dalam satu titik.
Dalam tradisi organisasi, ia bukan hanya sekadar forum memilih pemimpin. Ia adalah ruang muhasabah bersama. Tempat kader-kader berkumpul untuk bertanya tentang arah perjuangan, tentang cita-cita yang belum tercapai, tentang tantangan yang harus dihadapi di masa depan.
Tetapi manusia sering kali memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah tujuan menjadi alat, dan alat menjadi tujuan. Lambat laun, sebagian orang tidak lagi melihat muktamar sebagai forum musyawarah. Mereka melihatnya sebagai kesempatan. Kesempatan untuk memperluas pengaruh. Kesempatan untuk memperkuat posisi. Kesempatan untuk memastikan bahwa orang yang duduk di kursi kepemimpinan adalah orang yang dekat dengan mereka.
Kang Ibnu teringat pada sebuah kalimat yang pernah ia baca dalam buku filsafat politik: “Kekuasaan tidak selalu mengubah manusia. Kadang ia hanya memperlihatkan siapa manusia sebenarnya.”
