Dostoevsky dan Kesunyian Manusia Modern

White Nights adalah satu karyanya yang menceritakan kesepian, cinta, pengakuan, dan perjuangan. Pengalaman hidupnya yang penuh gejolak, termasuk kecanduan judi yang pernah menghancurkan kondisi finansialnya, justru menjadi bahan bakar kreativitasnya. Dari pengalaman itulah lahir karya-karya besar seperti The Gambler (1867).

Sebagai pengembara kata, Dostoevsky dalam novel Malam-malam Putih menjadikan “Aku” sebagai subjek aktif. Bertemu dengan Nastenka tanpa sengaja di malam pertama, sebelum datang orang ketiga, “Aku” mulai jatuh hati namun itu tak ada yang ideal selain impian dalam tidur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku” mulai terbuka dengan hidup yang penuh mimpi, depresi, dan angan-angan semata. Kesepian adalah jalan terbaik. Realitas dalam hidup hanya bayangan dari yang asali. Bahasanya dan penjabaran yang panjang menguras pikiran untuk mencerna agar lebih paham isi dalam novel ini.

Tokoh “Aku” menggunakan bahasa yang absurd, bahasa yang jarang orang pikirkan. Dostoevsky memang dikenal filsuf eksistensial, meskipun dirinya tidak mau mengakui akan keeksistensialan pikirannya sendiri.

Kehidupan yang tak disangka-sangka oleh tokoh “Aku”, Nastenka bisa hidup dengan neneknya yang buta penuh kesabaran. Nastenka memberikan wejangan tentang kesetiaan. Namun, datang penyewa muda yang baik, bahasa sekarang seorang pembantu. Membuat diam-diam Nastenka menaruh hati pada penyewa. Secara tidak langsung nenek pun mengingat romansa The Barber of Seville kesayangannya. Di tengah keterasingan tokoh “Aku” yang tidak punya siapa-siapa selain malam pertama, hancur seketika mendengar kisah Nastenka.

Tinggalkan Balasan