Perpisahan bukan akhir dari sebuah pertemuan. Ia menyisakan hikmah di balik fragmen-fragmen hidup yang kadang belum manusia ketahui.
Begitulah Tuhan tidak dapat dijangkau lewat rasionalitas manusia. Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk mengajarkan manusia belajar memaknai hidup. Tidak semua perjumpaan diciptakan untuk dimiliki selamanya. Ada yang hanya singgah agar manusia belajar tentang kehilangan, kesetiaan, dan harapan.

Di sinilah hidup menjadi penuh misteri. Gagasan itulah yang saya temukan ketika membaca Malam-Malam Putih karya Fyodor Dostoevsky.
Karya yang satu ini merupakan terjemahan dari The Novels of Fyodor Dostoevsky vol X: White Nights an Other Stories, edisi project Guttenberg, 5 Mei 2011. Upaya alih bahasa tersebut menjadikan karya klasik ini lebih mudah dinikmati pembaca Indonesia. Meskipun novel ini lahir dari Rusia abad ke-19, suasana yang digambarkan masih relevan dengan kegelisahan anak muda masa kini. Bagaimana eksistensi rasa perlu pengakuan meski sulit dicurahkan.
Dostoevsky adalah pria kelahiran 11 November 1821 di Moskow. Ia dikenal sebagai novelis, penulis, cerpenis, esais, dan jurnalis. Keasikannya dalam sastra punya pengaruh besar terhadap penulisan fiksi di abad 20-an.
White Nights adalah satu karyanya yang menceritakan kesepian, cinta, pengakuan, dan perjuangan. Pengalaman hidupnya yang penuh gejolak, termasuk kecanduan judi yang pernah menghancurkan kondisi finansialnya, justru menjadi bahan bakar kreativitasnya. Dari pengalaman itulah lahir karya-karya besar seperti The Gambler (1867).
Sebagai pengembara kata, Dostoevsky dalam novel Malam-malam Putih menjadikan “Aku” sebagai subjek aktif. Bertemu dengan Nastenka tanpa sengaja di malam pertama, sebelum datang orang ketiga, “Aku” mulai jatuh hati namun itu tak ada yang ideal selain impian dalam tidur.
“Aku” mulai terbuka dengan hidup yang penuh mimpi, depresi, dan angan-angan semata. Kesepian adalah jalan terbaik. Realitas dalam hidup hanya bayangan dari yang asali. Bahasanya dan penjabaran yang panjang menguras pikiran untuk mencerna agar lebih paham isi dalam novel ini.
Tokoh “Aku” menggunakan bahasa yang absurd, bahasa yang jarang orang pikirkan. Dostoevsky memang dikenal filsuf eksistensial, meskipun dirinya tidak mau mengakui akan keeksistensialan pikirannya sendiri.
Kehidupan yang tak disangka-sangka oleh tokoh “Aku”, Nastenka bisa hidup dengan neneknya yang buta penuh kesabaran. Nastenka memberikan wejangan tentang kesetiaan. Namun, datang penyewa muda yang baik, bahasa sekarang seorang pembantu. Membuat diam-diam Nastenka menaruh hati pada penyewa. Secara tidak langsung nenek pun mengingat romansa The Barber of Seville kesayangannya. Di tengah keterasingan tokoh “Aku” yang tidak punya siapa-siapa selain malam pertama, hancur seketika mendengar kisah Nastenka.
Malam ketiga dalam dirinya membara. Sebagai pria baik “Aku” tetap membantu meski itu berat. “Saranku kamu mengirim surat dengan harapan dia bisa menepati janjimu.” Terpaksa, pada malam keempat, “Aku” harus jujur, mimpi itu harus eksis. Nastenka mulai menerima “Aku” namun pengakuan itu lenyap ketika laki-laki yang berjanji kepada Nastenka datang menjemput.
“Aku” hanya termenung saat keesokan paginya menerima surat permohonan maaf telah menaruh rasa dan dari Tuhan disarankan dalam tinta yang ia kirim lewat pos. Mungkin “Aku” akan bertemu dengannya, seperti itu mimpi-mimpinya dalam kesendirian itu.
Kekuatan terbesar novel ini terletak pada cara Dostoevsky membedah psikologi manusia. Dialog-dialognya panjang, reflektif, dan sering kali terasa seperti percakapan dengan diri sendiri. Tidak sedikit pembaca yang menganggap bahasanya rumit. Namun, justru di situlah letak kenikmatannya. Novel ini mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenungkan arti kesepian, cinta, dan harapan.
Malam-Malam Putih bukan sekadar kisah cinta yang gagal. Ia adalah kisah tentang manusia yang hidup dari impian, lalu belajar menerima kenyataan. Barangkali tidak semua mimpi harus menjadi nyata. Sebab, ada kalanya yang paling indah memang hanya bisa hidup ketika mata masih terpejam.
Data Buku
Judul: Malam-Malam Putih
Penerbit: Diva Press
Tebal: 104 Halaman
Tahun: Cetakan pertama,Mei 2025
Penulis: Fyodor Dostoevsky
