Malam ketiga dalam dirinya membara. Sebagai pria baik “Aku” tetap membantu meski itu berat. “Saranku kamu mengirim surat dengan harapan dia bisa menepati janjimu.” Terpaksa, pada malam keempat, “Aku” harus jujur, mimpi itu harus eksis. Nastenka mulai menerima “Aku” namun pengakuan itu lenyap ketika laki-laki yang berjanji kepada Nastenka datang menjemput.
“Aku” hanya termenung saat keesokan paginya menerima surat permohonan maaf telah menaruh rasa dan dari Tuhan disarankan dalam tinta yang ia kirim lewat pos. Mungkin “Aku” akan bertemu dengannya, seperti itu mimpi-mimpinya dalam kesendirian itu.

Kekuatan terbesar novel ini terletak pada cara Dostoevsky membedah psikologi manusia. Dialog-dialognya panjang, reflektif, dan sering kali terasa seperti percakapan dengan diri sendiri. Tidak sedikit pembaca yang menganggap bahasanya rumit. Namun, justru di situlah letak kenikmatannya. Novel ini mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenungkan arti kesepian, cinta, dan harapan.
Malam-Malam Putih bukan sekadar kisah cinta yang gagal. Ia adalah kisah tentang manusia yang hidup dari impian, lalu belajar menerima kenyataan. Barangkali tidak semua mimpi harus menjadi nyata. Sebab, ada kalanya yang paling indah memang hanya bisa hidup ketika mata masih terpejam.
Data Buku
