Saya ingin mengutip penggalan salah satu puisinya yang secara visual mungkin berangkat dari lingkungan terdekatnya, yakni dunia pesantren. Namun puisi yang berjudul “Karena Aku Bukan Lembar Rambutmu” ini mempunyai pergerakkan imajinasi yang terbuka hingga kesan yang tertangkap jauh lebih luas dari lingkungan di mana penyair menemukan gagasan awal:
Karena aku bukan lembar rambutmu
jangan simpan aku di balik jilbabmu
angin sesekali menggoda
agar hubungan kita menjadi desau
yang mengiris jarak antara kepak sayap bangau
dan siut parau seruling anak gembala di danau

Karena aku bukan lembar rambutmu
jangan katakan aku lalu tak rindu
meski tak setiap waktu kau keramas
dan tak ada busa sampo yang terusap
namun hati yang berliang
selalu menjelma elang
yang kerap menukik ke dalam dekap
meramu cahaya di dadamu
Pada puisi yang berjudul “Izinkan Aku Menjadi Secangkir Kopi” tampaknya juga berangkat dari hal sederhana yang terjadi di lingkungan terdekatnya. Namun, lagi-lagi penyair berhasil memberi pemaknaan lain lewat deskripsi visualnya tentang tradisi minum kopi sehingga apa yang kita baca adalah gambaran yang sublim dari sebuah harapan, sebuah doa yang tengah dipanjatkan. Secangkir kopi menjadi realitas baru dalam puisi dan memancarkan pemaknaan baru. Bahkan menjadi renungan yang sufistik:
Izinkan aku menjadi secangkir kopi
yang kauhirup saat pagi berkelopak di rekah bibirmu
menyesap ke lekuk pori-pori lidahmu
lalu mengembara ke negeri-negeri dalam imajinasimu
Izinkan aku menjadi secangkir kopi
yang kaureguk saat malam bertekuk di kelopak matamu
menyisir gelora laut di dadamu
lalu bergemuruh dalam derap zikir dan munajatmu
Masih ada sekitar 30-an puisi lain dengan beragam tema dan strategi pengungkapannya. Apapun yang tampak dari gaya, bentuk atau starategi pengungkapan yang dipakai, penyair sangat memperhatikan keutuhan unsur-unsur dalam berbahasa, sangat menakar diksi-diksi yang digunakan, dan menahan imajinasinya sesuai keperluan puisi. Tidak berlebihan sekaligus tidak kekurangan. Pas. Dari puisi-puisi yang lebih pendek atau yang idiom-idiomnya lebih sederhana misalnya, keutuhan tersebut justru memperkaya imajinasi pembaca.
Bagian kedua dari antologi Deru Dua Arus ini berisi sekitar 30-an puisi Masmuni Mahatma. Saya lumayan mengenal puisi-puisi Masmuni, paling tidak dari antologi Aku Butuh Darahmu (2009) yang sempat saya baca dulu.
Pada puisi-puisi yang awal, dalam kadar tertentu atmosfir dari puisi-puisi D Zawawi Imron masih terasa sangat kuat, terutama untuk idiom-idiom khas Madura: laut, pantai, gelombang, perahu, siwalan, darah. Meski demikian, puisi-puisi Masmuni waktu itu cenderung lebih kontekstual, dan tampaknya ia selalu tergoda untuk merespon situasi sosial dan politik yang terjadi. Dengan idiom-idiom khas Madura dan kacamata orang Madura ia berbicara tentang tanah air dengan segala persoalannya.
Dalam antologi Deru Dua Arus ini sejumlah puisi kontekstual yang menyoal situasi juga masih dapat ditemui, di samping upayanya dalam mengangkat kisah-kisah sejarah dalam wujud puisi. Juga catatannya tentang Bangka dan daerah-daerah lain di tanah air dalam sudut pandang seorang penyair yang aktivis.
Namun yang sedikit berbeda, dan tampaknya ini semacam perkembangan, adalah munculnya puisi-puisi yang kontemplatif serta puisi-puisi ziarahnya ke sejumlah tempat. Dalam puisi yang berjudul “Ada Gumam di Pintu-pintu” terasa sekali renungannya tentang masa lalu, tentang kampung halaman dan ibu. Sebuah kontemplasi kata-kata yang cukup sublim. Saya kutip puisi tersebut seutuhnya:
