Dua Arus Madura

Belum selesai kubaca getar nadimu
Ada gumam di pintu-pintu
Saling gilas tanpa baju
Angin beku di cekung pipimu

Kemanakah kau layarkan perahu ibu
Dongeng tua membuatku bisu
Urat-urat cemara semakin kaku
Melingkar selorong matahari bertamu

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ada gumam di pintu-pintu
Sebut nama dagingmu penuh cemburu
Jarak tak patut menjelma ranjau
Kau dan aku setetes getah musim kemarau 

Ada gumam di pintu-pintu
Kisahkan lagi kulit-kulit tak berbulu

Renungan lainnya yang menarik ada pada puisi-puisi ziarahnya. Dalam puisi yang berjudul “Luka-luka di Bahu Bangka” ia berziarah ke situs-situs sejarah, tampak penyair mencoba bercengkerama dengan tokoh-tokoh seperti Depati Hamzah, membaca secara intens surat-surat Soekarno dan kemudian merefleksikannya pada realitas Bangka sebagai tanah jajahan, dari dulu hingga sekarang.

Dalam ziarah lain penyair mengunjungi makam keramat Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan, Tasikmalaya. Seorang sufi terkenal dari Tatar Sunda. Ada tiga buah puisi kontemplatif tentang ziarah ke makam keramat ini. Jika idiom-idiomnya di puisi lain biasanya lugas dan cenderung berkobar, maka dalam rangkaian puisi ini seakan merunduk luluh. Suaranya pelan setengah berbisik, namun kata-kata yang terdengar cukup tajam di telinga. Saya kutip puisi “Syekh Abdul Muhyi (2)”:

Mungkin mawar salah ditumbuk sebaris jalan
Percikan madu yang kau suguhkan
Belum tuntas kuperah searah pemujaan
Bagaimana kau tunjukkan terang rembulan
Di antara ayat-ayat Tuhan
Lidah ini masih mengerang kesakitan

Ya Maulana, di sisimu terus kurakit 
Patahan hati yang tak tercatat
Bila kau sudi berikan isyarat
Kuingin asah wirid-wirid azimat
Dunia terekam teraih akhirat

Alfatihah

Kini antologi Deru Dua Arus sudah terhidang di hadapan kita dengan puisi-puisi dari dua penyair Madura, dua penyair alumni Pondok Pesantren Annuqayah, yang saling melengkapi. Kebersihan dan ketertiban kata-kata diimbangi dengan ekspresi kegairahan ungkapan yang kontekstual. Begitu juga renungan-renungan sufistik yang mendalam dinyalakan dengan imajinasi-imajinasi sedikit liar yang muncul kadang di luar dugaan.

Dua penyair Madura ini bagaikan dua arus yang bertemu dalam muara yang sama, yakni kreativitas, ketulusan, dan kegembiraan dalam berpuisi. Selamat membaca.

Tinggalkan Balasan