Ketiga, santri sebagai kontributor. Ketika mengunjungi laman duniasantri.co, saya kemudian langsung berpikir bahwa ternyata santri juga dapat berkreasi. Memberikan opini, karya seni, dan cerita dalam bentuk tulisan. Hal demikian menjadi pemicu semangat untuk turut berkontribusi menyumbangkan karya.
Ada pikiran yang melintas dalam benak saya yang mengatakan, “Karya mereka (santri) saja bisa masuk di media ini, saya sebagai santri juga harus bisa melakukan itu.”

Ketiga hal itulah yang kemudian menjadi penyemangat para santri, termasuk saya pribadi, dalam melestarikan budaya literasi dan berkontribusi di media duniasantri.co.
Terima kasih saya ucapkan kepada para pendiri jejaring duniasantri atas kontribusinya dalam membuat gerakan literasi sebagai peningkat kualitas literasi anak-anak bangsa. Semoga dengan umur yang akan menginjak tahun ketiga pada 17 Agustus nanti, duniasantri terus eksis dalam meningkatkan kualitas literasi di Indonesia, sehingga tujuan didirikannnya jejaring duniasantri untuk mengembangkan sumber daya manusia santri sebagai modal sosial untuk memperkukuh, memperkokoh, dan memajukan NKRI, dapat terwujud. Aamiin.

Saya ingin sekali ikut pelatihan menulis seperti ini, semoga dapat berkah limpahan di duniasantri.co