Emak, Nasi Goreng Bawang, dan Sekelebat Ingatannya

“Mandi sana! Mulai bandel sekarang, ya. Jangan kau tiru abang kau si Bambang yang pemalas itu,” suara Emak makin meninggi. Di belakang, Bang Ali, Bang Bambang, dan Bang Cahyo menyusulku.

“Ada apa ini rame-rame?” tanya Bang Ali.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Adik kau si Doni ini, Emak suruh mandi malah diam saja. Nanti kalau terlambat sekolah nangis. Kalian bertiga juga, cepat mandi biar bisa gantian…!” tegas Emak yang makin membuatku bingung.

Seketika suasana hening. Aku dan ketiga abangku saling pandang. Berbagai tanya berloncatan dalam benakku: ada apa dengan Emak? Sesaat kemudian, Bang Ali menyuruh adik-adiknya menuruti saja perintah Emak. Kami pun mandi secara bergantian. Sama persis seperti dulu saat kami masih kecil, tapi bedanya sekarang sudah tidak berebut kamar mandi lagi.

Usai mandi, Emak menyuruh kami berempat berkumpul di meja makan. Kami duduk berurutan. Tidak ada yang mengerti mengapa Emak bertingkah seperti itu.

“Makan kalian…! Emak sudah susah-susah masak, sarapannya harus dihabiskan,” tegas Emak lagi.

Di tangannya sepiring nasi goreng bawang dibawanya. Dulu, nasi goreng itulah yang mengganjal perut kami berempat sebelum berangkat sekolah. Nasi goreng berbumbu seadanya, tanpa kecap, tanpa sosis, bahkan tanpa telur. Rasanya biasa saja, tentu akan kalah dengan nasi goreng yang dijual di restoran atau bahkan nasi goreng pinggir jalan. Namun, kenangannya yang membuat nasi goreng bawang buatan Emak bernilai mahal.

Di meja makan ini pula, semua anak-anaknya merasakan pahit dan manisnya tuah nasihat tanpa koma. Di sela-sela makan, petuah bertubi-tubi datang dan menghujam gendang telinga. Memeras air mata dan membuat dahi terus berkerut. Sampai lupa cara mengunyah gizi makanan yang harusnya berjalan riang di meja makan.[1]

Emak belum berubah sama sekali. Emak memang kerap berbicara dengan nada tinggi, seolah membentak. Namun, bukan berarti Emak tidak sayang pada kami. Cerewetnya adalah bentuk kasih sayangnya dan kami menyadari akan hal itu.

Emak langsung menyuapi kami secara bergantian. Bermula dari Bang Ali dan berlanjut hingga diriku, kemudian kembali ke Bang Ali lagi. Tidak ada yang membantah sama sekali. Hitung-hitung untuk membuat hati Emak bahagia. Kami pun bisa bernostalgia kembali dengan masa kecil.

Aku tidak salah lagi, dapat kupastikan Emak sudah pikun dan menganggap kami masih kecil. Batinku perih sekali melihat kondisi Emak yang seperti ini. Ketiga abangku pasti juga telah menyadari, bahwa ingatan Emak mulai terganggu. Bang Ali dan Bang Bambang menunduk saat disuapi. Sementara Bang Cahyo mengunyah sambil menangis sesenggukan. Memang, sedari dulu Bang Cahyo adalah anak Emak paling cengeng.

“Kenapa menangis? Nilai ulangan Matematikamu dapat empat lagi?” tanya Emak.

Tinggalkan Balasan