Bang Cahyo tidak menjawab. Aku pun langsung menyenggol lengannya agar berhenti menangis.
“Ali, jangan susah makan. Lihat adikmu si Bambang, badannya gemuk dan sehat. Tapi kau yang paling tua, malah kerempeng seperti ini,” lanjut celoteh Emak.

Siangnya, Emak tertidur pulas di kamarnya. Mungkin karena lelah menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Sedangkan aku, Bang Ali, dan Bang Cahyo berunding untuk siapa yang akan merawat Emak. Sebab, kondisi Emak sudah tidak memungkinkan bila harus ditinggal sendirian di sini. Namun, tiba-tiba Emak bangun dan ke luar kamar.
“Nah, bagus itu, kalian belajar bareng-bareng. Doni, ajari abang-abangmu Matematika, ya. Kalau Emak cuma bisa penjumlahan dan pengurangan saja, kalau kau ‘kan bisa yang lain juga.”
Aku hanya bisa mengangguk pasrah mendengar titah Emak. Bagimana pun ia sudah pikun, ingatannya hanya seputar masa kecil kami. Sesaat kemudian Bang Bambang datang dengan tergopoh-gopoh. Kepergiannya untuk membelikan makan untuk kami semua, agar Emak tak perlu repot-repot masak lagi.
Emak pun langsung menyambar, “Kau ini, ya, sudah dibilangin jangan jajan terus. Emak sudah tidak punya uang lagi kalau uangnya buat jajan sebanyak itu. Besok uang jajanmu Emak potong. Ingat itu…!”
***
Esoknya, aku berencana membawa Emak untuk tinggal bersamaku. Bukannya abangku yang lain enggan merawat Emak, tapi karena hanya dengan akulah Emak mau menurut. Saat segalanya sudah dipersiapkan, kami pun bersama-sama masuk ke kamar Emak untuk mengabarkan rencana itu.
Sesampainya di kamar Emak, ia terbaring lemah di atas dipan kayu beralaskan tikar pandan yang sebenarnya sudah tidak layak. Bang Cahyo yang lebih dulu masuk tiba-tiba berteriak memanggil nama Emak. Wajah Emak memucat dan matanya sayu. Kondisinya memburuk lagi. Bang Ali segera menyuruh adik-adiknya mengangkat tubuh Emak ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, tiba-tiba tangan Emak menepis lenganku. Sepertinya ia tak ingin dibawa ke rumah sakit.
Bibir Emak bergetar. Seperti ada yang ingin ia katakan. Kami pun menunggu.
“Ali, jaga adik-adik kau, ya. Bambang, jangan bandel lagi nyuri mangga di halaman rumah Haji Sarman. Cahyo, belajar yang pintar biar juara kelas seperti adikmu…,” suara Emak memarau. Sudut matanya meneteskan air mata. Bang Ali yang berada paling dekat dengan Emak, mengusap lembut dahi Emak.
“Dan kau Doni…,” ucapannya terputus lagi. “Kau anak Emak yang paling nurut. Jaga persaudaraan dengan abang-abangmu. Anak-anak Emak harus tetap akur.”
“Maafkan kami, Mak…,” air mata kami sama-sama berderai.
Kami berempat menangis merutuki diri sendiri yang sudah tega menelantarkan Emak selama ini. Aku yang menggenggam telapak tangan Emak, tiba-tiba merasakan tangannya kian tak berdaya. Rasa cemas pun melanda. Deru napas dari hidung Emak tak tampak, nadinya pun sudah tak berdetak. Aku mulai menyadari bahwa Emak telah tiada. Ucapan maaf terus terucap. Kucium kaki legamnya berkali-kali, yang konon menyimpan surga di bawahnya.
