Penyesalan Sang Ayah di Hadapan Jasad "Susi"

Fardhu Kifayah Sepotong Bayang-Bayang

Refleks tubuh membuat Kusno membuka matanya lebar-lebar. Ia panik dalam kegelapan. Matanya secara tidak sengaja menatap lurus ke arah dinding kanan.

Di dalam cermin seng buram yang mulai berembun, Kusno melihat sesuatu yang mengerikan. Bayangan di dalam cermin tidak merefleksikan ruangan pemandian itu. Di dalam kaca, ada seorang pemuda berambut cepak. Pemuda itu mengenakan kaus oblong putih polos. Matanya berlubang hitam besar. Dari kedua lubang mata itu, air mengalir deras seperti air mata yang tidak pernah kering.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sosok itu adalah Suryo!

Jantung Kusno terasa berhenti berdetak saat itu juga. Tubuhnya membeku. Keringat dingin langsung membasahi punggungnya. Gayung plastik di tangannya terlepas. Benda itu jatuh ke lantai semen dengan suara yang keras, memecah kesunyian malam Kotagede.

“Pak Kusno? Ada apa?” Shinta bertanya dari kegelapan di sudut ruangan. Nada suaranya terdengar sangat cemas.

Kusno mencoba menarik napas panjang. Dadanya terasa sangat sesak. Ia berusaha keras mengendalikan suaranya agar tidak gemetar. “Tidak ada apa-apa. Lampunya mati ditiup angin. Tolong nyalakan kembali.”

Shinta segera bergerak mencari korek api. Beberapa detik kemudian, api kecil kembali menyala di ujung sumbu lampu minyak. Cahaya kuning kemerahan kembali menerangi ruangan pemandian.

Kusno memungut gayung plastik dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menolak untuk menyerah pada ketakutannya. Kusno meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah halusinasi akibat rasa bersalahnya yang mendalam. Ia harus menyelesaikan fardhu kifayah ini secepat mungkin.

Kusno mengambil kain kafan putih yang sudah disiapkan. Kain itu dipotong menjadi tiga bagian panjang tanpa jahitan. Ia memegang kedua pergelangan tangan jasad Susi. Kusno berniat melipat kedua tangan itu agar bersedekap di atas dada jasad, layaknya tata cara pemakaman laki-laki.

Namun, lengan jasad Susi sama sekali tidak bisa digerakkan.

Persendian tangan Susi mendadak menjadi sangat kaku. Kekakuan itu sekeras besi cor yang sudah dingin. Kusno mencoba menekan pergelangan tangan jasad dengan sekuat tenaga tuanya. Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya hingga otot-otot di lengannya menegang. Jasad itu tetap menolak untuk melipat tangannya.

Tiba-tiba, sebuah bunyi gemertak yang sangat keras terdengar dari dalam dada jasad Susi. Bunyinya seperti tulang yang retak secara paksa akibat tekanan yang terlalu kuat.

Kain kafan putih yang diletakkan di atas paha jasad mendadak tergelincir jatuh ke lantai semen. Kain putih itu seolah menolak untuk menyelimuti tubuh Susi.

Kejadian aneh tidak berhenti di situ. Air bekas cucian jenazah di lantai semen tidak mengalir menuju selokan pembuangan di luar ruangan. Air keruh bercampur kapur barus itu justru mengalir memutar dalam bentuk spiral yang tidak wajar. Air itu mengalir kembali, membasahi kaki Kusno yang telanjang.

Uap panas mendadak menguar dari genangan air di lantai semen. Suhu di dalam ruangan seketika meningkat drastis. Udara menjadi sangat pengap. Bau harum daun bidara dan kapur barus lenyap dalam sekejap. Ruangan sempit itu kini dipenuhi oleh aroma minyak wangi melati yang sangat pekat. Wangi melati murah seharga sepuluh ribu rupiah. Itu adalah parfum yang biasa dipakai oleh para pengamen jalanan Malioboro untuk menutupi bau keringat mereka di bawah terik matahari.

Kusno melangkah mundur dengan napas terengah-engah. Kengerian yang luar biasa kini mencengkeram seluruh jiwanya. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cermin seng di dinding kanan.

Di dalam cermin yang berembun, sosok Suryo tidak lagi diam. Sosok bayangan itu melangkah maju hingga wajahnya hampir menyentuh permukaan kaca cermin. Tangan bayangan Suryo terjulur keluar dari bingkai cermin yang retak. Tangan sedingin es itu bergerak perlahan, mengarah langsung ke leher Kusno.

Kusno mendadak merasa leher fisiknya tercekik oleh kekuatan tak terlihat. Ia kesulitan menghirup udara malam. Dadanya terasa sangat sakit bagai dihantam gada besi. Ia tidak bisa bersuara. Kusno menyadari satu kebenaran yang menampar jiwanya saat itu juga.

Jasad di depannya ini tidak sedang membalas dendam kepada dirinya. Susi hanya sedang mempertahankan martabat kedirian yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya di jalanan. Susi telah memilih jalan hidupnya sendiri sebagai perempuan di Pesantren Al-Fatah. Susi menolak untuk didefinisikan kembali secara paksa menjadi laki-laki di akhir hayatnya.

“Maafkan aku, Suryo… Maafkan ayah..,” batin Kusno menjerit dalam kesunyian jiwanya yang hancur.

Air mata penyesalan yang selama sepuluh tahun ini ia tahan di balik keangkuhan syariat akhirnya tumpah membasahi pipinya yang keriput. Kusno menyadari kesalahannya yang sangat besar. Egonya selama ini telah membutakan matanya dari cinta kasih kemanusiaan. Ia dahulu mengusir Suryo hanya karena aturan kaku di kepalanya. Malam ini, ia hampir mengulangi kesalahan yang sama kepada Susi. Ia mencoba memaksakan syariat hanya demi memuaskan egonya sendiri sebagai mudin yang merasa paling suci.

Kusno kini tidak lagi peduli pada rumus matematika kematian yang kaku di kepalanya. Ia hanya ingin jasad ini mendapatkan kedamaian terakhirnya. Ia hanya ingin memohon ampun agar kutukan bayangan di cermin itu segera terangkat dari jiwanya.

Kusno jatuh terduduk di lantai semen yang basah oleh air sisa pemandian. Tubuhnya gemetar hebat di hadapan Shinta dan para transpuan yang kini berdiri karena panik melihat kondisi mudin sepuh itu.

Tinggalkan Balasan