Penyesalan Sang Ayah di Hadapan Jasad "Susi"

Fardhu Kifayah Sepotong Bayang-Bayang

“Pak Kusno, ada apa sebenarnya?” Shinta melangkah mendekat dengan wajah penuh kecemasan.

Kusno tidak menjawab pertanyaan Shinta. Ia menatap jasad Susi dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh kelembutan dan rasa bersalah yang mendalam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Nduk Susi…,” bisik Kusno dengan suara bergetar di sela tangisnya. “Maafkan aku. Aku hanya orang tua kaku yang bodoh.”

Kusno bangkit berdiri dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Ia mengambil sisa potongan kain kafan putih di atas meja kayu. Jemarinya yang keriput mulai merobek kain itu secara perlahan. Ia tidak lagi menggunakan metode tiga lapis kain untuk laki-laki. Ia membentuk potongan kain kafan sisa itu menjadi layaknya kebaya sederhana.

Ia meletakkan lembaran kain berbentuk kebaya itu di atas dada Susi dengan penuh kelembutan. Ia memutuskan mengafani Susi dengan cara perempuan.

Begitu kain berbentuk kebaya itu menyentuh kulit Susi, sebuah keajaiban magis terjadi di dalam ruangan.

Persendian tangan Susi yang semula sekeras besi cor mendadak melunak dengan sangat anggun. Kedua tangan itu melipat dengan sempurna bersedekap di atas dadanya. Wajah Susi yang semula kaku dan tegang kini tampak sangat tenang. Sudut bibirnya yang menyisakan gincu merah tipis tampak melengkung, membentuk senyuman damai yang sangat indah.

Bayangan Suryo di dalam cermin seng perlahan memudar lalu lenyap sepenuhnya. Kamar mandi kembali menjadi sunyi dan tenang. Air di lantai semen kini mengalir normal menuju selokan pembuangan di luar ruangan. Bau wangi melati murah perlahan berganti menjadi keharuman alami yang sangat lembut dan menenangkan.

Fajar hampir menyingsing di ufuk timur Kotagede. Cahaya biru keperakan mulai mengusir kegelapan malam. Sebuah mobil ambulans putih terparkir di depan gerbang masjid tua Kotagede. Shinta dan teman-temannya menggotong keranda kayu Susi masuk ke dalam ambulans dengan tenang. Jenazah Susi akan segera dibawa menuju TPU Jalan Pramuka untuk dimakamkan secara layak.

Shinta melangkah kembali ke dalam ruang pemandian yang kini sudah bersih dan rapi. Ia melihat Pak Kusno yang masih termenung lemas di atas lantai semen yang basah.

“Terima kasih banyak, Pak Kusno,” ujar Shinta dengan tulus. “Jenengan sudah memberikan hak terakhir Susi sebagai manusia.”

Shinta merogoh saku tas kainnya. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil yang sudah usang dan basah karena air hujan malam sebelumnya.

“Susi menitipkan ini sebelum dia ambruk di trotoar jalanan dua hari lalu, Pak,” bisik Shinta perlahan. “Dia bilang, jika dia mati nanti, tolong serahkan bungkusan ini kepada mudin tertua di Kotagede. Dia tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu rumah jenengan saat dia masih bernapas.”

Kusno menerima bungkusan plastik kecil itu dengan tangan yang gemetar hebat. Dadanya mendadak merasa sangat sesak bagai dihantam batu besar.

Shinta berpamitan dengan sopan lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan pemandian. Mobil ambulans perlahan bergerak menjauh, meninggalkan keheningan fajar di Kotagede yang dingin.

Kusno membuka bungkusan plastik itu dengan sangat perlahan di bawah temaram cahaya fajar. Di dalamnya terdapat sebuah kartu identitas lama yang sudah usang dan terkelupas di beberapa bagian sudutnya. Itu adalah selembar Kartu Tanda Penduduk.

Kusno menatap foto di KTP tersebut dengan mata yang mendadak membelalak lebar. Air matanya seketika tumpah tanpa bisa ditahan lagi.

Foto di KTP itu menunjukkan wajah seorang pemuda tampan berambut cepak yang sedang tersenyum ramah ke arah kamera. Di bawah foto itu tertulis sebuah nama dengan sangat jelas: Suryo.

Suryo tidak pernah mati mengenaskan di Jakarta sepuluh tahun lalu seperti semua rumor jalanan yang selama ini Kusno dengar. Suryo rupanya pulang kembali ke Yogyakarta. Ia mengganti namanya menjadi Susi, bergabung dengan Pesantren Al-Fatah di Kotagede, dan hidup berjuang di bawah hidung Kusno selama bertahun-tahun. Namun, Kusno tidak pernah mengenalinya karena kebencian dan keangkuhan dogma yang telah membutakan mata dan hatinya selama ini.

Kusno memeluk erat-erat KTP usang itu di dadanya yang berguncang hebat. Tangisnya pecah di tengah kesunyian fajar Kotagede yang dingin dan sunyi. Penyesalannya kini menjelma menjadi lubang hitam yang tak akan pernah bisa ditutup kembali hingga akhir hayatnya.

Kusno perlahan berdiri dengan sisa kekuatannya yang hampir habis. Ia melangkah mendekati cermin seng di dinding kanan. Cermin itu kini merefleksikan wajahnya sendiri yang tampak sangat tua, keriput, hancur, dan dipenuhi oleh rasa bersalah yang abadi.

Dari sela jemarinya yang masih basah oleh sisa air pemandian, wangi minyak wangi melati murah jalanan Malioboro menguar dengan sangat lembut. Wangi melati itu seolah berbisik di udara malam, membawa pesan maaf dan kedamaian dari sepotong bayang-bayang yang kini telah pergi untuk selamanya menuju keabadian.

Tinggalkan Balasan