Postingan yang telah mendapatkan like di atas 60 ribu tersebut memunculkan komentar yang sangat bervariatif. Dari jumlah komentar lebih dari 15 ribu, tentu tak sedikit yang mengkritik atau lebih tepatnya tidak setuju dengan tindakan tersebut. Banyak pula yang meluruskan perbuatan tersebut dengan berbagai sumber literatur sebagai penguatnya yang dibarengi dengan pikiran yang jernih pula.
Takzim sebagai Feodalisme?

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa takzim kepada kiai dalam pesantren bukanlah bentuk penghambaan atau kepatuhan buta. Dan penghormatan kepada orang berilmu atau kepada kiai dalam pesantren sejatinya adalah ajaran Islam itu sendiri.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menekankan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Sehingga menghormatinya bukan semata-mata untuk membesarkan ego guru, tetapi demi menanamkan sikap rendah hati dan penghormatan terhadap ilmu. Ini merupakan bagian dari metode pendidikan Islam yang bersifat transformatif dan spiritual.
Jika dikaitkan dengan bentuk feodalisme, penulis menganggapnya benar; takzim kepada kiai di pesantren adalah feodalisme. Namun bukan feodalisme dalam pengertian klasik ala kerajaan Eropa abad pertengahan, di mana ketika bangsawan atau dalam kata lain sang raja bersin, semua rakyat jelata seakan akan menggigil ketakutan.
Dalam hal ini penulis menerjemahkannya sebagai “feodalisme spiritual”, yang mana tidak memaksa pihak yang lemah dengan senjata atau undang-undang, tapi mengikat dengan pesona keilmuan dan teladan akhlak. Bahkan feodalisme yang tidak melahirkan tiran, tetapi melahirkan ketenangan batin dan mungkin juga –kalau beruntung –mendapatkan barakah.

juga karena banyaknya oknum-oknum pesantren yang tidak bertanggung jawab, membuat banyak orang tambah enggan mempelajari makna takdzim yang sesungguhnya.
Tulisannya keren kang, sangat mencerahkan.. sekalipun terkadang otonomi ketakdziman selalu dimanfaatkan oleh yang bukan kyayi tapi merasa berhak diperlakukan sebagai Kyayi.