Pernah suatu hari, ada pemilik akun submit satu tulisan. Kami kemudian melakukan pengecekan dan konfirmasi melalui nomor handphone yang dipakai registrasi, ternyata yang merespons adalah ibunya.
“Iya, anak saya senang menulis. Karena masih di pondok, handphonenya saya yang pegang. Kalau lagi pulang saja dia bisa pegang handphone,” ujar ibunya, yang mengaku bangga putrinya sudah berani submit tulisan di media. Putrinya sedang belajar di Madrasah Tsanawiyah di sebuah pesantren.

Jika melihat perkembangannya, akhirnya duniasantri.co telah menjadi “rumah penulisan” bagi santri lintas generasi. Juga lintas profesi.
Seminar
Bagi kami, tentu, 5000 bukan sekadar angka. Itu adalah pencapaian. Lalu, bagaimana merayakan pencapaian tersebut?
Kami sedang merencanakan untuk menggelar seminar yang secara khusus membahas perilisan 5000 karya tulis santri tersebut. Seminar ini rencananya akan digelar akhir Juni atau awal Juli, sebagai bagian dari rangkaian Festival Dunia Santri 2026.
Seminar ini dimaksudkan untuk menyelami, kemudian memetakan, alam pikiran santri yang terbaca dari perilisan 5000 karya tulis tersebut. Sekaligus, untuk membaca arah masa depan pesantren di tengah disrupsi teknologi digital yang kian tak tepermanai.

Alhamdulillah kabar baik bagi seluruh insan pesantren se-Indonesia, bahwasannya semangat harapan memupuk literasi itu masih ada. Jaya selalu dunia santriku, mari lukis dan abadikan setiap tetes penamu.