Flexing: Wajah Baru Kapitalisme?

Dalam konteks tertentu, pinjaman juga dapat digunakan untuk memenuhi keinginan yang berada di luar kemampuan finansial seseorang. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata keberadaan pinjaman, tetapi ketika tekanan untuk terlihat berhasil ikut memengaruhi keputusan konsumsi seseorang.

Padahal, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki ruang refleksi terhadap konsep “cukup”. Islam menawarkan konsep zuhud, yang bukan berarti menolak kekayaan atau melarang manusia menikmati dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Dengan begitu, manusia tidak dilarang memiliki banyak, tetapi diajak untuk memahami batas antara kebutuhan dan keinginan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaannya, mengapa konsep zuhud penting dibicarakan di tengah budaya konsumsi hedonis (hedonic consumption) hari ini?

Karena setiap barang yang kita gunakan tidak muncul begitu saja. Sebuah pakaian membutuhkan bahan baku, air, energi, lahan, dan tenaga manusia. Begitu pula dengan kendaraan, gawai, makanan, hingga barang-barang yang kita beli hanya untuk mengikuti tren. Semakin banyak kita mengonsumsi, semakin banyak pula sumber daya yang harus diambil dari bumi. Pada saat yang sama, proses produksi juga menghasilkan limbah dan sampah.

Masalahnya, sumber daya bumi memiliki keterbatasan, sementara sistem ekonomi modern pada banyak sektor bergantung pada peningkatan produksi dan konsumsi. Pasar membutuhkan produksi, produksi membutuhkan konsumsi, dan konsumsi terus didorong agar meningkat. Kita akhirnya berada dalam lingkaran yang membuat “lebih banyak” seolah menjadi sesuatu yang selalu lebih baik.

Di sinilah zuhud menjadi relevan. Zuhud mengajarkan manusia untuk tidak menjadikan keinginan sebagai sesuatu yang harus selalu dipenuhi. Bukan berarti berhenti menggunakan atau membeli, tetapi mulai bertanya: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau hanya diinginkan karena terus melihatnya di layar?

Sebab, persoalannya bukan sekadar berapa banyak uang yang kita keluarkan, tetapi juga berapa banyak sumber daya yang ikut digunakan untuk memenuhi keinginan tersebut. Di balik satu barang yang terlihat sederhana, ada bahan baku, energi, air, lahan, tenaga manusia, dan pada akhirnya limbah yang harus ditanggung lingkungan.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menghentikan algoritma untuk terus menampilkan kemewahan, tren, dan budaya flexing. Kita juga tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pilih untuk pamerkan. Namun, kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita meresponsnya. Kita bisa memilih untuk tidak mengubah setiap keinginan menjadi kebutuhan dan tidak membiarkan algoritma menentukan apa yang harus kita miliki.

Di tengah budaya yang terus berkata “lebih banyak”, mungkin kemampuan untuk berkata “cukup” justru menjadi bentuk kendali yang paling sederhana.

Tinggalkan Balasan