Gagal Paham Ihwal Nasionalisme

Dalam Kitab Idhotun Nsyiin, Musthafa Ghalayain juga menyinggung realitas demikian: Orang-orang yang sengaja melemahkan negara dan sendi-sendinya, maka dia tidak bisa disebut sebagai nasionalis, sekalipun mengaku dengan menggunakan suara yang lantang dan teriak; “saya nasionalis tulen.”

Saya sendiri menganggap tulisan beliau mengenai hal ini adalah sebagai bentuk cerminan terhadap realitas yang terjadi sekarang. Dengan nada satire sekaligus apik, Syekh Musthafa berhasil menuliskan realitas yang terjadi, di mana nasionalisme bukan lagi menjadi sebagai paham yang harus diyakini, namun dibingkai sebagai proses pencitraan. Bahkan, bagi Imam Ghalayain, orang-orang seperti itu disebut sebagai musuh negara yang sebenarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Imam Musthafa membagi musuh negara menjadi dua bagian. Pertama, musuh yang pergerakannya jelas; seperti kaum-kaum ekstremis, kontra-Pancasila, Hizbut Tharir, ISIS, dan lainnya. Sedangkan yang kedua, musuh yang sejatinya lebih mematikan dibanding musuh yang dsebutkan sebelumnya. Musuh-musuh yang pergerakannya sukar ditebak, yakni musuh negara yang memakai nasionalisme sebagai kedok.

Untuk contoh pada klasifikasi yang pertama sudah saya jelaskan secara jelas di atas, seperti HTI atau yang baru-baru ini muncul, yakni ‘Khilafatul Muslimin’. Secara gerakan sudah tampak, mereka bertujuan untuk mengganti pancasila dan menjadikan khilafah sebagai ideologi baru dan sistem pemerintahan.

Musuh yang kedua adalah musuh yang sukar ditebak, dia seolah-olah mencintai negara bahkan dengan pengakuan yang memang jelas, namun nyatanya tindakannya sama sekali tidak mencirikan kecintaannya.

Tinggalkan Balasan