Gagal Paham Ihwal Nasionalisme

Contoh dari tipe ini adalah seperti koruptor-koruptor yang sebelumnya memangku jabatan pada posisi-posisi yang cukup strategis atau yang biasanya berasal dari politisi. Mereka sebelumnya disumpah sebagai abdi negara, bersumpah untuk mencintai negara dan bangsa, namun nyatanya nihil. Redaksi sumpah yang dilayangkan hanya sebagai kedok untuk menuju kepentingan-kepentingan yang sifatnya personal.

Contoh lain adalah ketika mereka yang menganggap paling nasionalis lalu membuat kebijakan-kebijakan yang tidak sama sekali berpihak pada kepentingan bangsa dan negara, melainkan hanya untuk kepentingan personal atau kelompoknya saja. naifnya, kebijakan-kebijakan yang akan atau telah ditetapkan itu tidak berpihak pada masyarakat kelas bawah dan bahkan cenderung egosentris.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tipe musuh yang kedua memang sangat berbahaya dan lebih berbahaya. Sebab, jangankan melawan atau melakukan tindakan, mengidentifikasinya sebagai musuh saja tidak bisa. Ini yang harus secepatnya disadari.

Pada musuh dengan tipikal yang pertama, seperti HTI atau sejenisnya, memang penting untuk kita menaruh perhatian terhadap mereka dalam melakukan perlawanan. Namun, jangan sampai fokus perhatian kita dialihkan keseluruhan untuk mereka, sebab di belakang ada musuh yang lebih agresif, yang oleh Imam Musthafa dianggap sebagai musuh yang benar-benar musuh (musuh sebenarnya).

Dalam kitabnya, Imam Musthafa lagi-lagi menjelaskan bahwa nasionalis sejati tidak akan melakukan pengkhianatan terhadap negaranya sendiri, melainkan siap mati untuk negaranya. Jadi, menjadi nasionalis tidak cukup hanya dengan pengakuan tanpa tindakan sebagai manifestasinya. Kedudukan warga negara terhadap negara atau bangsanya, analoginya seperti kedudukan anak terhadap orang tuanya. Dia akan dianggap sebagai anak berbakti jika telah meme nuhi kewajiban terhadap orang tua dan melakukan kebaikan. Begitu juga dengan warga negara, dianggap sebagai generasi terbaik jika sudah melaksanakan kewajiban bagi egara dan bangsanya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan