Tanpa berpikir panjang, si murid kembali dengan senang hati. Sesampainya di rumah, ia tertidur, kemudian didatangi oleh Nabi Khidir. Ia diajari oleh Nabi Khidir seputar ilmu-ilmu agama. Kebetulan, esok harinya, warga kampung menyuruhnya berkhutbah. Dan, tanpa disadari, ia telah menjadi seorang yang ahli dalam ilmu-ilmu agama.
Setelah hari raya, ia berniat mengunjungi gurunya, dengan membawakan ubi yang telah dipanenya dari ladang. Setiba di jalan yang dilaluinya dulu ketika ada seorang yang memberi tahunya tentang keberadaan sang guru, ia dicegat. Lalu satu orang di antara mereka meminta maaf, bahwa selama ini mereka telah membohonginya untuk datang dan belajar kepada orang yang mereka tunjukkan dulu.

“Orang itu adalah tukang kebun biasa,” selorohnya. Si murid tak menghiraukan. Setiba di rumah sang guru, justru sang guru merasa menyesal membohonginya. Namun, ilmu yang diajarkan oleh Nabi Khidir adalah perantara khidmatnya kepada sang guru, pikirnya.
Dari cerita di atas, bisa disimpulkan, bahwa guru memiliki pengaruh besar untuk mencerdaskan anak-anak bangsa, dan memperbaiki moralitas penduduknya. Orang yang tidak mempunyai guru bisa dipastikan; jika ia pintar, maka gurunya adalah setan. Man taallama bila syaikhin, fasyaikhuhu syaiton. Barang siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan.
Wallahu a’lam bisshowab…
