Saya yakin, masih banyak persoalan pendidikan yang tidak tercium oleh stakeholder di regional masing masing. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa teori pendidikan yang dikupas di bangku akademis belum bisa menjawab dan saya pastikan gagal berdialog dengan realitas sosial. Miris bukan?
Lantas, pertanyaan dari tukang bakso kemudian, bagaimana peran guru-murid sehingga persoalan moral sangat serius serta menjadi pusat perhatian masyarakat kita? Lebih tinggi pendidikan seseorang kok semakin jarang ikut sosisalisasi dengan masyarakat? Bukankah semakin tinggi pendidikan semakin memiliki sensitifitas sosial tinggi? Kenapa dan kenapa harus demikian?

Terlepas dari maraknya persoalan demikian, hal sangat substansial yang disoroti secara massif adalah bagaimana tugas seorang guru dalam transfer of value kepada peserta didik sehingga menghasilkan real output seperti yang diharapkan. Khususnya, di zaman globalisasi sekarang ini di mana peran dan fungsi teknologi semakin marak dengan bermetamorfosis ke arah lifestyle sekarang.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa gudang informasi semakin mudah di dapat melalui teknologi. Begitu mudahnya akses teknologi untuk mencari informasi sehingga konsekuensi logisnya adalah terciptanya jurang terpisah antara guru-murid semakin nyata adanya. Dengan demikian, guru zaman sekarang harus mampu memberikan nilai kejujuran kepada anak didik, guru menjadi sumber informasi peserta didik, guru menjadi motivator peserta didik dalam memandang persoalan yang menjeratnya, guru mampu mengajak dialog teori pendidikan dan pengajaran kepada anak didik sehingga peserta didik paham tentang manfaatnya selama sekolah atau pada lembaga pendidikan baik dalam konteks pesantren maupun institusi pendidikan formal seperti sekolah, kampus, dan lembaga masyarakat.
Dengan demikian, sesederhana itukah fungsi guru? Tidak. Rauhani mengurai dalam bukunya Pendidikan Islam dalam Masyarakat Multikultural bahwa proses penanaman nilai pendidikan memang tidak mudah. Peserta didik bukanlah penerima yang pasif belaka. Internalisasi atau penyerapan yang dilakukan bukan tanpa pertimbangan dari dalam dirinya. Ada proses dialog serta tawar-menawar di sana. Setelah itu baru melahirkan eksternalisasi, yakni perwujudan dalam tindakan. Jika perwujudan tindakan menjadi kesepakatan bersama, maka nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk atau disalurkan melalui lembaga di masyarakat. Nah, karena penanaman nilai tergolong sulit maka tugas berat terletak di pundak guru, sang pendidik.
Meskipun demikian, seorang guru yang baik idealnya tidak boleh berkata susah maupun sulit dalam menjalankan tugas mulianya. Ini penting karena akan berakibat pada alam bawa sadar seseorang atas tindakan maupun moral yang dilakukan seorang guru. Di sisi lain, alam bawah sadar ketika mengatakan susah maka secara otomatis semua anggota tubuh bahu membahu mewujudkan kesulitan yang dialami sedikit demi sedikit. Makanya, dalam pesantren, tidak boleh seorang guru mengatakan susah dan tidak bisa. Ini pantangan. Lagi-lagi, ini persoalan jiwa seorang guru yang akan menciptakan generasi yang berkualitas. Bukan generasi yang instan.
