Dalam perjalanannya, guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan kepekaan sosial. Persoalan menjadi rumit karena di sinilah salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita. Menurut pengamatan dan penelitian Elizabeth Pisani (2003), banyak orang menjadi guru di Indonesia hanya karena ingin mendapatkan pekerjaan terutama PNS bukan karena ingin menjadi pendidik.
Akibatnya, jumlah guru di daftar gaji sering kali lebih banyak daripada jumlah guru di dalam kelas. Artinya, guru malas mengajar. Jika pengamatan Pisani ini benar, maka guru di Indonesia lebih banyak yang tidak profesional di bidangnya. Profesional adalah bekerja sesuai dengan tugas berdasarkan keahlian yang dimiliki dan digaji sesuai dengan kualitas pekerjaan.

Dalam hal ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa tidak semua guru di Indonesia mengalami disorientasi akademis. Tetapi, ada beberapa guru yang berstatus PNS dan tetap mendarmabaktikan dirinya sebagai guru yang inspiratif. Tetapi tidak banyak.
Sementara itu, zaman terus berubah. Kehidupan masyarakat terus berkembang. Implikasinya bagi sektor pendidikan jelas nyata. Dunia yang dialami seorang guru waktu muda sangat jauh berbeda dengan dunia yang dialami oleh murid-muridnya sekarang. Guru adalah “generasi mesin ketik”, sedangkan murid adalah “generasi elektronik”. Guru hanya mengenal telepon rumah, sedangkan murid mengenalnya dengan ponsel pintar dan internet.
Berkat teknologi komunikasi yang canggih itu, dunia seolah mengecil seperti desa. Karena itu, tugas pendidik seperti guru adalah berupaya semaksimal mungkin dan sekuat tenaga untuk bisa memanfaatkan teknologi sekaligus mencegah dan meminimalkan dampak-dampak negatifnya. Sebagai akibat moralnya, seorang guru dituntut agar lebih kreatif dan tidak gagap teknologi sehingga jika fasilitasnya tersedia, maka dia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Makanya, tidak salah adigium yang berbunyi teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Bagaimana dengan eksistensi teknologi manusia sangat diuntungkan dengan catatan mampu mengaktualisasikan dengan baik. Jika tidak, maka korban moral akan selalu jatuh, yaitu merebaknya immoralitas anak didik dengan gurunya. Sopan santun kian terkikis seiring berjalannya waktu dan kecerdasan akan semakin tereduksi dengan maraknya fenonema media sosial yang siap siap mengekspansi semua kalangan. Wallahu A’lam.
