Bumi berperan besar bagi kehidupan. Padi, pohon jati, kelengkeng, bunga mawar, lombok, tebu, dan berbagai tanaman lain yang menghasilkan, tentu saja akan dipuja karena yang dihasilkannya. Yang sering dilupakan adalah Bumi sebagai pijakan dan tempat menancapkan akar segala kehidupan. Pestisida dan insektisida tidak luput dibeli dengan mahal sebagai penyubur tanaman, mematikan rumput liar, pelebat daun, anti hama, dan lain sebagainya. Namun ini menjadikan Bumi ‘tersika’ dan dipaksa. Jarang dipuja, bahkan terkadang disalahkan. Padahal, Bumi terus dieksplorasi, ditanami-panen, ditanami lagi, dikontaminasi bermacam kimiawi.
Dikuras kesuburannya, Bumi tetap dalam kesabarannya. Dieksploitasi tanpa henti, tanah pun tetap hening dan geming. Ah, jika tanah bisa berbicara pada manusia, mungkin ia akan berkeluh: istirahatkan aku…

Bumi sebegitu ikhlas, tidak meninggi hanya diam menunggu, selayak meneladani Nabi Muhammad SAW sebagai uswah-nya. Sebagaimana nabi sebagai manusia “langit” yang tetap “membumi”, tidak memposisikan diri teratas meski terutus. Dengan tangannya sendiri ikut membantu membuat parit pada perang Khandak dengan ahli strategi Salman Al Farisi. Tidak bertepuk dan hanya menunjuk, selayak raja dunia dan yang lain adalah hamba. Bumi menurut tidak menuntut. Ikhlas…
