Hari Bumi, Manusia Harus “Membumi”

Kultus agama tersebut dalam firman-Nya ‘waman ya’mal mitsqala khoirotin khoiroyyarah…’. Allah akan (pasti) membalas sedikit perbuatan baik atau jahat meski sekecil biji dzarrah. Ikhlas tentu akan “dibayar” oleh Allah (dan mungkin sekarang Allah SWT sedang membayar ikhlasnya tanah). Ibrah-nya kepada manusia, bahwa ikhlas menjadi puncak, klimaks dari segala hal, tidak dapat ditakar atau ditukar, tiada dapat diukur. Ikhlas tidak mungkin dinilai karena ikhlas adalah ikhlas itu sendiri. Maka, ikhlasnya tanah di Bumi, al-ardh, dengan fitrah manusia sebagai khalifahnya (QS Al-Baqarah:30), secara perspektif Islam berkorelasi dengan ikhlasnya Bumi, agar khalifah-khalifah di atasnya bisa membumi, berpijak di Bumi dengan langkah bijak untuk memanfaatkan Bumi.

Hari Bumi manusia harus ikhlas “membumi”, afala tatafakkaruun… selayak manusia yang bisa berpikir, berpikir lebih jauh, jernih, dan matang tentunya. Manusia perlu rehat sejenak, menutup mata sebentar, iktikaf, tumaninah, dan tafakur. Bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari tanah dan menjadikannya untuk memakmurkan manusia. Allah SWT melarang manusia merajalela di Bumi dengan berbuat fasad fil ardhi, fil bahri, dan fissamawat. “Membumi” untuk tidak berbuat kerusakan setelah diciptakan Allah SWT dengan baik. Keikhlasan untuk “membumi” dengan berbuat baik untuk kebaikan itu sendiri, memberi kemanfaatan dan menolak kemudharatan, kepada bumi-Nya dengan segala isinya. Selamat Hari Bumi!

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tinggalkan Balasan