Ada yang berkata, “Tapi kami butuh lahan! Butuh uang! Butuh hasil bumi!” Benar. Islam tidak melarang pemanfaatan. Tetapi Allah mengingatkan: “Makanlah dari buah-buahannya, tetapi jangan berlebihan.” (Al-An’am: 141).
Berlebihan itulah yang menjadikan bumi bergetar, sungai murka, dan awan membawa duka. Bukan mengambil yang haram—melainkan mengambil yang halal dengan cara yang tidak adil dan berlebihan.

Hutan bukan hanya ruang fisik; ia adalah guru. Ia mengajarkan bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu, bahwa akar harus lebih dalam daripada cabang, bahwa sesuatu yang besar lahir dari kesabaran yang panjang. Tetapi manusia modern terlalu terburu-buru. Kita ingin kaya sekarang, ingin hasil sekarang, ingin pembangunan sekarang—lalu kita lupa bahwa hutan tidak bisa tumbuh kembali secepat lisensi-lisensi diteken.
Maka ketika Sumatra berkali-kali mengalami bencana, itu bukan semata tragedi; itu adalah bahasa alam yang sedang mengajari manusia tentang batas. Dalam setiap lumpur yang turun, ada pesan: “Jangan langkahi kehendak Allah.” Dalam setiap kabut asap, ada peringatan: “Jika engkau mematikan tasbih hutan, maka udara pun akan mematikan kenyamananmu.” Dalam setiap banjir, ada ayat yang tak tertulis: “Inilah wajah bumi ketika manusia lupa menjadi khalifah.”
Kini waktunya kita menundukkan kepala. Bukan untuk meratap, tetapi untuk kembali membaca ayat-ayat Allah yang berdiri tegak dalam wujud pepohonan. Waktunya kita menyadari bahwa menjaga hutan bukan hanya urusan ekologis; ia adalah ibadah, amanah, dan bentuk syukur paling nyata. Sebab jika manusia enggan menyayangi hutan, hutan tidak akan membalas dengan kasih—ia hanya akan memperlihatkan apa yang terjadi bila ciptaan Allah diperlakukan tanpa adab. Dan di hari itu, manusia akan sadar bahwa yang paling menyayat bukan bencana alam, tetapi fakta bahwa kitalah yang mengundangnya pulang.
Cipasung 1 Desember 2025.
