Lalu kenapa hari ini seakan-akan pesantren justru dianggap sebagai kelilip, sebagai selilit? Matamu gatal dan perih, mengira kelilipan pesantren. Gigimu sakit dan mulutmu ngilu, mengira selilitan pesantren. Karena itu, kelilip dan selilit itu harus segera dibuang demi Indonesia yang maju, demi Indonesia yang modern.
Jika masih ada pesantren, Indonesia dirasa akan sulit maju? Jika masih ada pesantren, Indonesia dirasa akan sulit menjadi bangsa yang modern? Betapa mengganggunya pesantren sebagai kelilip di matamu dan selilit di gigimu?

Apa hanya karena bangunannya banyak yang seadanya, kadang malah kumuh, lalu disebut sebagai ketertinggalan. Apa hanya karena lebih suka bersarung dibanding berjubah atau bercelana, lalu disebut kuno. Apa hanya karena lebih suka berpegang pada kitab-kitab kuning, lalu disebut kolot. Apa hanya karena melestarikan warisan leluhur, lalu disebut tradisional dan bahkan bidah. Apa hanya karena membungkuk dan mencium tangan guru sebagai penghormatan, lalu disebut syirik dan hidup dalam perbudakan.
Seakan-akan, pesantren adalah dunia yang sulit dimengerti. Padahal karena orang lain yang tak mau mengerti. Bukan sebaliknya. Seakan-akan, pesantren bukan bagian dari Indonesia yang maju, Indonesia yang modern. Padahal sebaliknya: Indonesia yang menjadi bagian dari dunia pesantren. Andai tak ada Indonesia, pesantren akan tetap ada seperti sebelumnya, sebelum ada Indonesia, sampai Tuhan tak lagi menghendakinya.
