Iran Menuju Tsurayya dalam Dialektika Sejarah dan Nubuatan

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

Artinya: “…Dan jika kamu berpaling (dari jalan Allah), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu (dalam keengganan itu).”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ayat ini menemukan muara penafsirannya yang paling dramatis dalam ruang waktu ketika para sahabat tertegun mencari siapakah sosok “kaum pengganti” tersebut. Imam At-Tirmidzi mengabadikan sebuah momentum puitis ketika Rasulullah ﷺ menepis keraguan itu dengan meletakkan tangan sucinya pada Salman Al-Farisi.

قَالَ: ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى فَخِذِ سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا وَقَوْمُهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الدِّينُ مُعَلَّقًا بِالثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

Artinya: “Rasulullah ﷺ menepuk paha Salman, kemudian bersabda, ‘Orang ini dan kaumnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika saja agama—dalam riwayat lain: ilmu—itu digantungkan di bintang Tsurayya, niscaya akan dicapai oleh orang-orang dari bangsa Persia.’

Ketika teks suci ini ditarik ke dalam lanskap empiris tahun 2026, kita tidak sedang melihat ramalan mistis yang pasif, melainkan sebuah cetak biru psikologi kebudayaan.

Isyarat “mencapai bintang Tsurayya” adalah sebuah metafora puitis untuk sebuah etos intelektual dan spiritual yang menolak batas kemustahilan. Di masa lampau, etos ini melahirkan Sibawaih yang merapikan bahasa Arab, serta Ibnu Sina yang memetakan anatomi tubuh manusia.

Tinggalkan Balasan