Kesadaran ini menuntut umat islam untuk memiliki rasa senasib dan seperjuangan. Siapa pun yang ditindas, maka wajib membelanya. Dan siapa saja yang menindas, maka wajib pula untuk melawannya. Apapun bentuknya, baik sistem, golongan, atau individu yang menindas manusia harus dilawan, karena kita juga bagian dari manusia.
Aneh rasanya jika aturan-aturan yang mendiskriminasikan kelompok minoritas lahir dari pemimpin muslim. Dalam Al-Qur’an sangat jelas memperingatkan orang-orang beriman untuk berlaku dan bersikap adil. “Dan jika engkau memutuskan perkara mereka maka putuskanlah diantara mereka dengan adil, sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”[13] Ayat ini secara tuntas menekankan pada penciptaan kondisi masyarakat yang adil dan egaliter.

Pembelajaran yang baik bisa dilihat dari kiprah Nabi Muhammad SAW saat memimpin Madinah. Kondisi masyarakat Madinah sama seperti masyarakat Indonesia hari ini, yakni pluralistik, baik dari segi ras maupun agama. Masyarakat yang heterogen ini berhasil menyatu dibawa pimpinan Nabi. Inilah yang disebut sebagai konsep ummah, kondisi dimana keanekaragaman masyarakat bersatu tanpa adanya diskriminasi dan kekerasan antargolongan.
Aspek politis penting lainnya yang diajarkan oleh Nabi adalah islam menganggap semua manusia sama, tanpa perbedaan warna kulit, ras, atau kebangsaan. kriteria satu-satunya yang menjadi pembeda adalah kesalehan (tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial). Seperti yang disabdakan Nabi ketika melaksanakan haji wada:
“Orang Arab tidak lebih tinggi dari pada orang Ajam, begitu pula orang Ajam tidak lebih tinggi dari orang Arab; tidak ada perbedaan antara yang hitam dan yang putih, kecuali oleh tingkat kesalehan yang diperlihatkan dalam hubungannya dengan orang lain… Janganlah tunjukkan kepadaku kebanggaan keturunanmu, tapi tunjukkan perbuatan baikmu.”[14] Sejalan dengan ayat Al-Qur’an: “Yang paling mulia di sisi Tuhan adalah orang yang takwa.”[15]
Melanjutkan spirit pembebasan dan perjuangan Nabi atas kaum mustadhafin, Khalifah Abu Bakar pada pidato pertamanya mengatakan: “Orang-orang yang lemah di antara kamu bisa menjadi kuat di hadapanku. Aku akan akan membuat para penindas menyerahkan hak mereka. Orang-orang kuat di antara kamu, bisa menjadi lemah di hadapanku. Insya Allah, aku akan melihat orang-orang tertindas memperoleh hak-haknya kembali.”[16]
Sejarah panjang spirit pembebasan yang diembuskan Islam harus terus menjadi naas pergerakan umat Islam. Bahwa segala bentuk penindasan terhadap golongan yang lemah harus dihentikan. Menjadi ahistoris jika umat Islam yang diharapkan mencintai dan melindungi kaum mustadhafin, pada realitanya malah sejalan dan melanggengkan perilaku buruk kaum mustakbirin. Pada akhirnya, siapa pun yang menindas manusia lainnya, berarti ia ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah!
Daftar Pustaka:
Ali Engineer, Asghar, 2013, Islam dan Pembebasan, Yogyakarta:LKIS.
Qodir, Zuly, 2018, Sosiologi Agama Teori dan Perspektif Keindonesiaan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prasetyo, Eko, 2014, Islam Kiri Jalam Menuju Revolusi Sosial, Yogyakarta: Resist Book.
Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. (2006). “Pedoman Perlindungan Hak-hak Minoritas.” https://www.kemenkumham.go.id/read-pedoman/perlindungan-hak-hak-minoritas.html
“Laporan Masyarakat Sipil tentang Kondisi Kebebasan Beragama Berkeyakinan di Indonesia Periode 2017-2021 dalam Universal Periodic Review (UPR) Indonesia 2022”
https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/01/05/waspadai-menguatnya-oligarki-ekonomi
Direktorat Website Politik dan Komunikasi http://ditpolkom.bappenas.go.id/v2/?p=1104
Catatan Kaki:
[1] KBBI.
[2] Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. (2006). “Pedoman Perlindungan Hak-hak Minoritas.” https://www.kemenkumham.go.id/read-pedoman/perlindungan-hak-hak-minoritas.html
[3] Terjemahan Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 75,
[4] Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Yogyakarta, 2013), Bab Asal Usul Islam
[5] Hadis Riwayat Abu Dawud.
[6] Direktorat Website Politik dan Komunikasi http://ditpolkom.bappenas.go.id/v2/?p=1104
[7] https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/01/05/waspadai-menguatnya-oligarki-ekonomi
[8] Terjemahan QS Al-Humazah ayat 1-5.
[9] Terjemahan QS Al Baqarah ayat 219.
[10] Orang yang kaya dan penguasa suatu negeri yang bersifat sombong dan menindas
[11] Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Yogyakarta, 2013) hal-21.
[12] Lihat “Laporan Masyarakat Sipil tentang Kondisi Kebebasan Beragama Berkeyakinan di Indonesia Periode 2017-2021 dalam Universal Periodic Review (UPR) Indonesia 2022”.
[13] Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 42.
[14] Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
[15] Terjemahan Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 13.
[16] Ibn Hisyam, Sirah Nabi, Vol. III.
