Islam Nusantara sebagai Antitesis Ideologi Transnasional

Usut diusut, faktor utama perilaku masyarakat menjadi seperti itu karena kurang paham dan minim literasi. Mereka tidak tahu, sekira mana ajaran Islam yang sesungguh-sungguhnya rahmatal lil ‘alamin. Padahal, kali pertama para Wali Songo dan apa yang kiai ajarkan selama ini, ialah Islam yang mampu bergandengan tangan dengan budaya dan kearifan lokal. Bukan malah mengkafir-bidahkan.

Islam Nusantara sebagai Alternatif   

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perbedaan yang mencolok dari ideologi Islam transnasional adalah penolakan tegasnya terhadap keberagamaan, termasuk dalam daulah (kekuasaan). Mereka sangat menghendaki berdirinya pemerintahan dengan latar Islam —sesuai dengan Islam yang mereka pahami. Sehingga ketika masyarakat masuk ke lingkaran tersebut, hanya diberi dua pilihan: tetap dianggap sebagai Muslim dengan mendirikan kekhilafahan, atau dicap kafir ketika masih keukeuh mempertahankan negara Pancasila ini. Benar, mereka menolak pilihan untuk menjadi Islamis sekaligus Indonesianis.

Sejatinya, sangat fatal pemahaman mereka terhadap Islam. Tafsir-tafsir yang mereka ambil cenderung saklek, bias, dan berpotensi merusak. Oleh karenanya, idiom Islam Nusantara yang dalam dekade terakhir ini digaungkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dapat menjadi alternatif dalam mengkonter narasi mereka.

2 Replies to “Islam Nusantara sebagai Antitesis Ideologi Transnasional”

Tinggalkan Balasan