Cikal bakal Pondok Darussalam Modern Gontor berawal ketika Kiai Imam Zarkasyi melihat empat lembaga pendidikan kelas dunia yang nantinya menjadi referensi atas konsep dan fondasi dasar berdirinya pesantren yang saat ini memiliki ribuan santri didik yang menjadi percontohan pesantren-pesantren di Nusantara.
Dalam buku setebal 124 halaman ini disebutkan, bahwa Kiai Imam Zarkasyi mengambil referensi dari Al-Azhar Mesir, karena Al-Azhar memiliki sejarah panjang di dalam dunia keilmuan. Tidak perlu diragukan lagi soal tradisi keilmuannya. Siapa yang tidak mengenal intelektual muslim sekaliber Profesor Dr M Quraish Shihab atau Prof KH Ibrahim Hosen? Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh masyhur kejebolan Al-Azhar.

Al-Azhar berdiri independen, bukan di bawah naungan pemerintah, tanpa intervensi dari pihak mana pun. Dari masa ke masa, Al-Azhar memiliki konsistensi yang luar biasa. Hal ini yang menjadikan Kiai Imam Zarkasyi melirik Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan yang patut menjadi referensi atas lembaga pendidikan di Indonesia. Selain itu, Kiai Imam Zarkasyi juga mengambil spirit kemandirian dari pondok yang terletak di bagian Afrika Utara, bernama Syanggit. Konsep kedermawanan dibangun sedemikian rupa, sehingga tidak ada biaya yang dibebankan oleh peserta didik, baik pengelolaan dan pembangunan (halaman 78).
Kita bergeser di India, yaitu sebuah Universitas Islam yang bernama Aligarh. Konsep keilmuan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor tidak terlepas dari terbukanya keilmuan yang diajarkan di dalam kurikulum, sehingga tidak melulu tentang agama, melainkan juga memperkenalkan keilmuan umum, yang menjadi inspirasi sistem pendidikan di pesantren tersebut (halaman 79).
