/1/
Matamu embun di antara seluk rumput gajah:
sejuk merengkuh duka yang doyan mendesah,
bening menyedu kasih dalam secangkir rindu,
suci menginang lapang untuk gerimis yang tak selalu manis.
Kuselami sudut-sudut matamu yang kering air mata,
berharap kutemui permata yang kau sembunyikan sejak lama.
Tak ada apa-apa,
yang tersisa hanya beberapa biji putus asa.

Kucabut semua biji yang hampir berkembang,
menggantinya dengan biji-biji kasih sayang
/2/
Aku mulai bisa menangis, katamu.
Itu luka yang mengikis, kataku.
Apa itu air mata, tanyamu.
Bahasa rasa, jawabku.
Aku sangat bahagia, ungkapmu.
Air mata memang pandai becanda, sahutku.
