Sesaat kemudian, kami melakukan pelacakan sendiri melalui aplikasi yang berbeda. Hasilnya idem ditto, sawi mawon. Setelah ada second opinion, kami mencoba menghubungi penulisnya sesuai dengan nama yang tertera pada akun yang melakukan submit. Sampai dini hari, pesan singkat kami hanya “terbaca”, tapi tidak direspons.
Yang menarik, ketika pagi ini kami melakukan pemeriksaan ulang terhadap tulisan tersebut, nama penulisnya telah berubah, dari IW berubah menjadi BS. Penasaran, kami melakukan pemeriksaan terhadap aku IW dan BS. Ternyata, alamat email dan nomor telepon selular kedua akun tersebut sama persis. Satu orang yang sama punya dua akun yang sama-sama aktif.

Jangan Ada Lagi
Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, maka hari ini kami akan membekukan (deactive) kedua akun tersebut dan men-take down seluruh tulisannya yang pernah kami dirilis. Saat tulisan ini dirilis, artikel berjudul “Relevansi Tafsir Klasik dalam Konteks Kontemporer” tersebut sengaja kami biarkan dulu agar publik juga turut melakukan pemeriksaan sementara waktu. Setelah tak ada respons, hari ini juga artikel tersebut akan kami take down.

Setuju, jangan biarkan plagitor bergentayangan di dunia literasi (duniasantri.co)