Rumah joglo itu masih berdiri dengan kokoh. Cat dindingnya memang mulai pudar dimakan usia, tetapi aroma kayu jati yang khas masih menyambut siapa pun yang datang.
Di teras, terdapat sebuah amben bambu yang masih berada di tempatnya. Tempat yang sejak kecil menjadi saksi cerita-cerita sebelum tidur dari bapak.

“Nduk wis mulih?”
Suara itu membuatku menoleh. Bapak duduk di amben sambil memegang secangkir teh hangat. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Keriput di wajahnya bertambah banyak dibanding terakhir kali kami bertemu. Langkahnya memang tak lagi setegap dahulu, tetapi sorot matanya masih seteduh yang kuingat.
Aku menghampirinya, lalu mencium punggung tangannya. “Injih, Pak.”
Beliau tersenyum kecil, “Suwe ora mulih.”
Aku hanya membalas dengan senyum tipis karena rasa bersalah lebih dulu memenuhi tenggorokanku. Pekerjaan sering kali membuatku lupa bahwa ada rumah yang selalu menungguku dan menagihku untuk kembali.
Bapak menepuk pelan sisi amben “Lenggah kene, Nduk.”
Aku duduk di samping beliau. Semilir angin sore menggoyangkan daun-daun mangga di halaman. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak berlarian, disusul kokok ayam yang saling bersahutan. Desa ini seolah tak pernah berubah.
Bapak menyeruput tehnya perlahan. “Kerjamu piye?”
Aku tersenyum kecil, “Alhamdulillah, lancar, Pak.”
Beliau mengangguk. “Lancar itu bagus, tapi jangan sampai karena mengejar lancar, kamu lupa mengejar benar.”
Kalimat itu membuatku termangu.
Entah mengapa, setiap kali bapak berbicara tentang kebenaran, ingatanku selalu kembali pada malam-malam semasa kecil. Malam ketika lampu senter menjadi satu-satunya penerang, dan suara bapak mengantarkanku mengenal seorang ksatria bernama Yudhistira.
“Nduk, sampun ngantuk durung?”
Aku menggeleng sambil memeluk guling kecil, “Dereng, Pak.”
Bapak terkekeh pelan. Beliau lalu duduk bersila di samping dipanku. Tangannya mengusap rambutku yang masih acak-acakan selepas bermain seharian.
“Kalau begitu, bapak cerita.”
Mataku langsung berbinar. Sejak kecil, sebelum tidur adalah waktu yang paling kutunggu karena malam selalu membawa cerita dari bapak. Beliau tak pernah membacakanku dengan buku. Semua kisah itu seolah telah hidup di kepalanya.
Kadang tentang Panji Asmarabangun atau tentang Jaka Tarub, juga tentang wayang.
Namun ada satu tokoh yang paling sering beliau ceritakan: Yudhistira.
“Pak, kenapa Bapak paling seneng cerita Yudhistira?”
Beliau tersenyum. “Karena banyak orang kagum pada orang yang paling kuat, padahal bapak lebih kagum dengan orang yang tetap jujur meski sedang kuat.”
Aku mengernyit.
Namanya juga anak kecil. Bagiku, tokoh hebat adalah yang mampu mengalahkan raksasa atau memegang senjata paling sakti.
“Yudhistira itu kuat ya, Pak?”
“Beliau itu adil.”
Aku masih belum mengerti. Bapak mengambil napas panjang sebelum kembali melanjutkan.
“Dalam pewayangan Jawa, Yudhistira dikenal sebagai Puntadewa. Beliau mendapat julukan Narendra Peranganing Jawata. Orang-orang menghormatinya karena budinya luhur, karena kejujurannya.”
Aku menatap wajah bapak lekat-lekat. “Pak, apa orang jujur selalu menang?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja
“Tidak, Nnduk.”
Aku langsung memasang wajah kecewa
“Kadang orang jujur justru lebih sering kalah.”
“Lalu kenapa harus jujur?”
Bapak memandang langit-langit rumah beberapa saat, seolah sedang memilih kata yang tepat agar bisa dipahami anak sekecil aku.
“Karena kalau kau kehilangan uang, kau masih bisa mencarinya lagi. Kalau kehilangan rumah, masih bisa membangun lagi”
Aku mengangguk sekali lagi.
“Tapi kalau kehilangan kejujuran…” Beliau menatap kedua mataku. “Kau akan kesulitan menemukan dirimu sendiri.”
Kalimat itu belum benar-benar kupahami, namun entah mengapa, kata-kata bapak selalu tersimpan rapi di sudut ingatanku.
Beliau melanjutkan, “Menjadi orang baik bukan berarti hidupmu akan mudah.”
“Lalu?”
“Menjadi orang baik artinya kau memilih tetap menjadi manusia, sekalipun dunia mengajakmu menjadi sebaliknya.”
Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar bernyanyi dari halaman belakang. Aku mulai menguap.
Bapak menyelimutiku sambil mengusap dahiku. “Ingat ya, Nduk, kalau suatu hari hidup memberimu pilihan antara yang benar dan yang menguntungkan, pilihlah yang benar.”
“Kalau rugi?”
Beliau tersenyum kecil. “Rugi di hadapan manusia belum tentu rugi di hadapan Gusti Allah.”
Aku memejamkan mata. Suara bapak perlahan berubah menjadi pengantar tidur yang paling menenangkan.
Tahun-tahun berlalu lebih cepat daripada yang kusadari. Hingga akhirnya memilih jalan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan semasa kecil menjadi seorang penegak hukum. Bapak tidak banyak bertanya ketika aku menyampaikan keputusanku. Beliau hanya menepuk bahuku. “Sing adil, Nduk.”
Namun semakin dewasa, semakin kusadari bahwa keadilan bukanlah perkara sederhana. Di ruang sidang, kebenaran sering kali memiliki banyak wajah. Ada yang datang membawa bukti. Ada pula yang datang membawa kekuasaan. Dan tidak jarang, kekuasaan berbicara lebih lantang daripada kebenaran.
Di saat seperti itulah, suara bapak selalu terdengar samar di telingaku: “Kalau hidup memberimu pilihan antara yang benar dan yang menguntungkan, pilihlah yang benar…”
Aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, nasihat itu akan menjadi penentu seluruh hidupku hingga akhirnya aku mengerti mengapa bapak begitu mengagumi Yudhistira.
Ruang sidang dipenuhi wartawan. Kilatan kamera menyambar dari berbagai arah. Berkas tuntutan berada tepat di hadapanku.
Beberapa malam sebelumnya, telepon tak henti-henti berdering. Ada yang membujuk. Ada yang mengancam. Ada pula yang menjanjikan jabatan lebih tinggi apabila aku bersedia “melihat perkara ini dari sudut pandang yang berbeda.”
Namun setiap kali keraguan datang, suara bapak selalu muncul: “Kalau hidup memberimu pilihan antara yang benar dan yang menguntungkan… pilihlah yang benar.”
Aku menarik napas panjang. Lalu membacakan tuntutan sesuai fakta yang ada. Aku tahu, keputusan itu mungkin akan membuat jalanku tidak mudah. Tetapi anehnya hatiku justru terasa ringan.
Ingatan tentang masalalu membuyarkanku saat tangan bapak menepuk bahuku pelan. Aku tersenyum. “Aku memilih jalan yang Bapak ajarkan.”
Beliau mengernyit, masih belum mengerti.
“Aku menolak semuanya, dan perkataan bapak benar, yang paling sulit bukan mencari mana yang benar, tapi tetap memilihnya ketika semua orang menyuruh kita berpaling.”
Bapak tertawa pelan, tawa yang selalu kurindukan sejak kecil. Beliau mengusap kepalaku seperti dulu.
“Nduk, saiki bapak ngerti, cerita Yudhistira sing bapak dongengke saben bengi ora muspra.”
Mataku mulai basah. “Bapak…”
Beliau menggeleng pelan. “Bapak tidak pernah berharap kamu menjadi Yudhistira. Bapak hanya berharap, ketika dunia menyuruhmu menjual keadilan, kamu memilih tetap menjadi manusia.”
Aku menggenggam tangan beliau dan rasanya masih sama hangatnya, persis seperti ketika aku masih kecil. Akhirnya aku mengerti, yang dimaksud bapak dengan jelmaan dari Yudhistira bukanlah seseorang yang lahir sebagai seorang ksatria. Melainkan, seseorang yang berani membawa nilai-nilai Yudhistira ke dalam hidupnya. Seseorang yang memilih jujur ketika dusta terasa lebih mudah. Memilih adil ketika keberpihakan lebih menguntungkan.emilih hati nurani ketika dunia menawarkan harga untuk membelinya.
Di senja itu, ditemani secangkir teh hangat dan semilir angin yang memainkan daun-daun mangga, bapak tersenyum bangga.
Barangkali aku bukan jelmaan seorang ksatria. Namun selama aku menjaga kejujuran dan keadilan seperti yang beliau ajarkan, mungkin, sedikit demi sedikit, aku sedang berjalan di jejak yang sama.
Sumber ilustrasi: pinterest.
