Jelmaan Yudhistira

Namanya juga anak kecil. Bagiku, tokoh hebat adalah yang mampu mengalahkan raksasa atau memegang senjata paling sakti.

“Yudhistira itu kuat ya, Pak?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Beliau itu adil.”

Aku masih belum mengerti. Bapak mengambil napas panjang sebelum kembali melanjutkan.

“Dalam pewayangan Jawa, Yudhistira dikenal sebagai Puntadewa. Beliau mendapat julukan Narendra Peranganing Jawata. Orang-orang menghormatinya karena budinya luhur, karena kejujurannya.”

Aku menatap wajah bapak lekat-lekat. “Pak, apa orang jujur selalu menang?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja

“Tidak, Nnduk.”

Aku langsung memasang wajah kecewa

“Kadang orang jujur justru lebih sering kalah.”

“Lalu kenapa harus jujur?”

Bapak memandang langit-langit rumah beberapa saat, seolah sedang memilih kata yang tepat agar bisa dipahami anak sekecil aku.

“Karena kalau kau kehilangan uang, kau masih bisa mencarinya lagi. Kalau kehilangan rumah, masih bisa membangun lagi”

Aku mengangguk sekali lagi.

“Tapi kalau kehilangan kejujuran…” Beliau menatap kedua mataku. “Kau akan kesulitan menemukan dirimu sendiri.”

Kalimat itu belum benar-benar kupahami, namun entah mengapa, kata-kata bapak selalu tersimpan rapi di sudut ingatanku.
Beliau melanjutkan, “Menjadi orang baik bukan berarti hidupmu akan mudah.”

“Lalu?”

“Menjadi orang baik artinya kau memilih tetap menjadi manusia, sekalipun dunia mengajakmu menjadi sebaliknya.”

Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar bernyanyi dari halaman belakang. Aku mulai menguap.

Bapak menyelimutiku sambil mengusap dahiku. “Ingat ya, Nduk, kalau suatu hari hidup memberimu pilihan antara yang benar dan yang menguntungkan, pilihlah yang benar.”

“Kalau rugi?”

Tinggalkan Balasan