Abad ke-21 sering dipuji sebagai puncak pencapaian peradaban manusia. Kemajuan teknologi memungkinkan manusia berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu, ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat, dan berbagai inovasi berhasil mengubah cara hidup masyarakat dunia. Apa yang dahulu dianggap mustahil kini menjadi kenyataan.
Namun di balik berbagai pencapaian tersebut, dunia justru menyimpan ironi yang sulit diabaikan. Ketika teknologi mencapai puncak kejayaannya, kemanusiaan seolah bergerak menuju senjakala.

Setiap hari, media memberitakan perang, konflik bersenjata, pengungsian, kemiskinan, dan bencana kemanusiaan. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal, anak-anak kehilangan masa depan, dan banyak masyarakat hidup dalam ketidakpastian.
Tragedi-tragedi tersebut terjadi di tengah dunia yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia dan nilai-nilai universal. Kontras inilah yang menunjukkan bahwa kemajuan material tidak selalu sejalan dengan kemajuan moral.
Kondisi tersebut semakin terlihat melalui ketimpangan sosial yang terus melebar. Sebagian kecil masyarakat dunia menikmati kekayaan yang melimpah, sementara jutaan lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar. Di berbagai negara, kemewahan berdiri berdampingan dengan kemiskinan. Gedung-gedung pencakar langit menjulang di tengah kawasan yang masih dihuni oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.
