Yang sungguh-sungguh mengerti agama kalah dengan yang bermodal viral. Yang mendalam kalah dengan yang dramatis. Padahal agama tidak dibangun dengan sensasi tapi dengan esensi.
Menjaga Pesantren

Lalu apa yang bisa dilakukan? Apakah cukup diam, tawakal, lalu berharap keadaan membaik sendiri? Tidak.
Doa memang penting. Tetapi doa tanpa keberanian sering kali hanya menjadi cara halus untuk menghindari tanggung jawab.
Pesantren harus dijaga bersama-sama. Dan menjaganya bukan hanya tugas kiai atau Kementerian Agama, tetapi juga tugas santri, alumni, wali santri, bahkan masyarakat umum.
Pertama, budaya kritik sehat harus mulai dibiasakan. Menghormati kiai bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Takzim tidak identik dengan kehilangan akal sehat. Dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, kritik justru lahir dari rasa cinta terhadap ilmu dan kebenaran. Sehingga tercipta ruang dialektika yang sehat dan aman.
Kedua, tokoh agama yang ‘waras’ harus berani bersuara. Jika ada praktik menyimpang, manipulatif, atau meresahkan masyarakat, jangan diberi ruang pembiaran. Jika perlu diluruskan secara ilmiah, lakukan. Jika perlu pendekatan kultural lewat jalur para masyayikh dan alumni, tempuh dengan akhlak terbaik.
Tetapi jika sudah mengarah pada kriminalitas dan membahayakan masyarakat, maka penegakan hukum harus berdiri di depan. Agama tidak boleh dijadikan tameng kejahatan. Sudah saatnya yang waras tidak mengalah kepada yang bodoh.
Ketiga, masyarakat juga perlu lebih dewasa dalam memilih figur agama. Jangan mudah takjub hanya karena retorika atau atribut kesalehan. Carilah pesantren yang jelas sanad keilmuannya, jelas tradisi akademiknya, jelas ketokohan ulamanya, dan memiliki rekam jejak panjang dalam mendidik umat. Banyak pesantren unggul yang luar biasa mendidik santrinya. Ada Pesantren Tebuireng, Lirboyo, Sarang, Leteh, Ploso, Sidogiri, Gontor, Tambak Beras, dan pesantren terkemuka lainnya.
Kadang kita terlalu sibuk mencari kiai yang “sakti,” padahal yang dibutuhkan sebenarnya kiai yang sehat akalnya, jernih ilmunya, dan baik akhlaknya.
Pesantren memang bukan institusi malaikat. Ia diisi manusia biasa yang mungkin salah, lelah, bahkan tergelincir. Tetapi justru karena itu pesantren harus terus dijaga agar tetap sehat wal afiat.
Sebab kalau benteng moral bangsa ini runtuh, yang kehilangan bukan hanya santri, tetapi seluruh masyarakat.
Dan mungkin, tugas terbesar santri hari ini bukan sekadar menjaga tradisi mengaji. Melainkan, menjaga agar agama tetap menjadi cahaya, bukan alat menakut-nakuti. Menjadi jalan keselamatan, bukan kedok kepentingan. Menjadi sumber akhlak, bukan panggung kesucian palsu.
