“Kapan Nikah?” dan Normalisasi Kekerasan Verbal

Tentu tidak semua yang bertanya bermaksud jahat. Banyak di antara mereka melakukannya karena terbiasa, karena itulah yang dulu dilakukan kepada mereka, karena mereka sungguh peduli dengan cara yang belum mereka sadari bisa menyakiti. Di sinilah pentingnya literasi relasional dalam keluarga—kesadaran bahwa niat baik tidak selalu cukup dan bahwa cara kita mengungkapkan kepedulian perlu terus-menerus dievaluasi. Kepedulian yang sejati bukan menekan, melainkan mendengarkan.

Lebaran adalah momen fitrah—kembali kepada kesucian dan kemanusiaan yang paling dasar. Maka alangkah indahnya jika kita juga kembali kepada cara berkomunikasi yang lebih manusiawi: mengganti “kapan nikah?” dengan, misalnya, “kesibukannya apa sekarang?”, atau sekadar “semua baik-baik saja?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan-pertanyaan kecil tersebut jauh lebih bermakna daripada sekadar menanyakan status pernikahan seseorang. Sebab, pada akhirnya, Idulfitri bukan ajang untuk mengevaluasi kehidupan orang lain—melainkan ruang untuk hadir, tulus, dan saling memuliakan.

Tinggalkan Balasan