Bagi anak rantau, mudik Lebaran merupakan momen istimewa yang selalu dinanti-nantikan. Setelah sekian lama hidup jauh di tanah perantauan, kembali ke kampung halaman terasa seperti jeda paling menenangkan untuk meletakkan segala penat. Bertemu keluarga dan sanak saudara menjadi obat tersendiri yang perlahan menghidupkan kembali sisa-sisa semangat yang hampir padam.
Di Madura, mudik dikenal dengan istilah toron yang berarti turun. Maknanya tidak jauh berbeda dengan mudik pada umumnya, yakni kembali ke kampung halaman. Istilah ini bahkan telah dikenal jauh sebelum abad ke-19, berkaitan dengan sejarah panjang migrasi masyarakat Madura yang telah berlangsung sejak masa sebelum Kerajaan Majapahit.

Jika ada yang mengatakan bahwa di mana-mana kita bisa menemukan orang Madura, pernyataan itu tidaklah berlebihan. Di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri, masyarakat Madura dapat dijumpai. Selain untuk keperluan belajar seperti kuliah atau mondok, sebagian besar masyarakat Madura merantau untuk bekerja demi meningkatkan kesejahteraan hidup melalui berbagai mata pencaharian di tanah orang.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004, bahwa di tahun 2000, suku Madura di seluruh Indonesia mencapai 6.771.727 jiwa. Dengan presentase Jumlah penduduk Madura yang berada di Pulau Madura hanya di angka 3.230.300 jiwa. Hal ini berarti 50 persen orang Madura merantau ke luar pulau Madura.
