Salah satu karomah Mbah Kholil yang diruturkan turun temurun, dari generasi ke genarasi, adalah sebuah kejadian terkait dengan pencurian yang meresahkan masyarakat. Maraknya pencurian ini kemudian diadukan kepada Mbah Kholil yang saat itu sedang mengajar para santri tentang ilmu nahu.
Pada saat orang-orang datang untuk mengadukan perihal pencurian tersebut, Mbah Khalil sedang memberikan contoh kalimat susunan fi’il dan fa’il, yaitu “qama zaidun” yang artinya Zaid berdiri.

“Maaf, Kiai, di daerah kami seringkali terjadi pencurian,” demikian salah seorang yang datang mengadukan kejadian pencurian di kampung mereka. Mbah Khalil acuh tak acuh dan hanya mengatakan “qama zaidun”, dan terus mengajar santri-santrinya dan seakan tidak peduli dengan kehadiran orang-orang dari kampung sebelah.
