Mungkin karena sikapnya yang sangat menghormati budaya Nusantara dan laku hidupnya yang melebur dengan masayrakat inilah yang membuat Habib Dullah lebih dikenal dengan sebutan Kiai Habib. Karena beliau lebih dikenal sebagai seorang kiai daripada sebagai habib. Suatu sebutan yang secara sosiologis-antropologis terlihat akulturatif-sinkretik, karena memadukan budaya Jawa (kiai) dengan budaya Arab (habib). Suatu panggilan yang sering menimbulkan salah paham, karena banyak yang mengira Habib adalah nama dari sang kiai.
Tidak hanya itu, Kiai Habib juga dikenal sebagai sosok dermawan. Hampir setiap bulan beliau menghabiskan lebih dua ton beras dan 50 kambing untuk sedekah, dibagikan kepada kaum miskin. Kegiatan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak pernah diketahui publik kecuali orang-orang terdekatnya saja. Bahkan, banyak di antara penerima sedekah tidak mengetahui kalau yang memberi sedekah adalah Kiai Habib.

Selain dikenal sebagai sosok yang bijak dan dermawan, Kiai Habib juga dikenal sebagai sosok yang alim dan memiliki kelebihan spiritual. Bahkan banyak yang menganggap beliau adalah seorang wali, karena doanya yang maqbul dan kemampuannya menyingkap hal-hal gaib (khowas). Banyak orang yang sudah berhasil ditolong oleh Kiai Habib melalui doa dan nasihatnya. Meski demikian, beliau tidak pernah mau menerima sepeser pun uang dari orang yang sudah ditolongkannya. Seringkali beliau bilang bahwa tidak layak seorang habib menerima uang dari umat. “Habib itu harus bisa membantu umat, kalau perlu kasih makan dan uang pada umat, bukan malah membebani umat,” demikian kata Kiai Habib
Yang menarik, meski Kiai Habib memiliki kemampuan lebih di bidang spiritual, namun beliau tidak pernah menonjolkan diri dengan bersikap aneh dan membuat pernyataan kontroversial yang bisa membuat suasana gaduh. Beliau memang sering memberikan isyaroh melalui kata-kata yang alegoris dan simbolik kepada para murid atas datangnya suatu peristiwa. Namun, beliau selau wanti-wanti kepada para murid dan jemaahnya agar tidak menyebarkan informasi yang masih menjadi sirrullah (misteri) kepada publik, dan tetap mentaati hukum serta aturan yang berlaku di masyarakat.
Misalnya, beberapa waktu sebelum datangnya musibah tsunami di satu daerah, beliau cerita tentang gelombang laut yang dahsyat, kemudian di akhir cerita beliau bilang sambil bercanda: “Makanya, besuk kalau liburan akhir tahun tak usah ke pantai, kta liburan di rumah bersama keluarga atau ke gunung aja, lebih asyik.” Dan para jemaah baru tahu maksud pernyataan Kiai Habib yang disampaikan sambil bercanda itu setelah terjadi musibah tsunami di daerah tersebut.
