Ketika Pesantren Mengajarkan Hal-hal yang Terlupakan

Dalam beberapa tahun ini, pesantren kerap menjadi sorotan publik karena berbagai kasus yang muncul ke permukaan. Pemberitaan mengenai kekerasan, perundungan, hingga persoalan tata kelola lembaga pendidikan sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan cerita tentang keberhasilan pendidikan yang berlangsung di dalamnya.

Akibatnya, sebagian masyarakat mengenal pesantren melalui fragmen-fragmen peristiwa yang viral, bukan melalui kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya dijalani para santri dan guru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di tengah situasi semacam itu, buku Hal-Hal yang Tak Diceritakan ketika Bicara Pesantren karya Yunizar Ramadhani hadir menawarkan sudut pandang yang lebih utuh tentang dunia pesantren.

Alih-alih menempatkan pesantren sebagai lembaga yang harus dibela atau disalahkan, Yunizar memilih menghadirkannya sebagai ruang kehidupan yang penuh cerita manusia.

Melalui pengalaman mengajar di sekolah khusus perempuan, ia mengajak pembaca menyaksikan berbagai peristiwa sederhana yang sering luput dari perhatian, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan. Dari sinilah pembaca menemukan wajah pesantren yang lebih dekat, lebih hangat, dan lebih nyata.

Buku ini berisi kumpulan esai yang membahas beragam tema, mulai dari perempuan, pendidikan, budaya belajar, bahasa, hingga relasi sosial di lingkungan pesantren. Setiap tulisan berdiri sebagai refleksi tersendiri, tetapi seluruhnya diikat oleh kegelisahan yang sama: bagaimana pendidikan tidak hanya melahirkan orang yang berilmu, melainkan juga manusia yang mampu memahami dan menghargai sesamanya.

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya mengangkat pengalaman perempuan dalam ruang pesantren. Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu kesetaraan dan perlindungan perempuan, Yunizar menawarkan perspektif yang lahir dari pengamatan langsung. Perempuan tidak ditempatkan sebagai pelengkap cerita, melainkan sebagai subjek yang memiliki suara, pengalaman, dan kontribusi penting dalam dunia pendidikan Islam.

Hal itu tampak sejak bagian awal buku yang memuat tulisan seperti “Saya Lelaki, Guru di Pesantren Putri” (hlm. 3). Melalui pengalaman tersebut, penulis memperlihatkan bagaimana proses belajar tidak hanya berlangsung antara guru dan murid, tetapi juga terjadi ketika seorang pendidik berusaha memahami dunia yang berbeda dari pengalaman hidupnya sendiri.

Gagasan serupa kembali muncul dalam tulisan “Mengapa sebagai Lelaki Saya Membela Perempuan” (hlm. 38). Di tengah masih kuatnya berbagai stereotip tentang peran perempuan, Yunizar mengajak pembaca melihat bahwa penghormatan terhadap perempuan bukan sekadar agenda kelompok tertentu, melainkan bagian dari nilai kemanusiaan yang seharusnya tumbuh dalam setiap ruang pendidikan.

Relevansi buku ini semakin terasa ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi digital. Banyak pihak memandang tradisi dan teknologi sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Namun, Yunizar menunjukkan kemungkinan yang berbeda melalui esai “Fatḥul Kutub dan Teknologi Belajar” (hlm. 63). Tulisan tersebut menggambarkan bahwa pesantren dapat tetap menjaga tradisi keilmuannya sembari memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas akses belajar.

Di tengah derasnya arus informasi dan budaya komentar instan di media sosial, pembahasan mengenai bahasa menjadi bagian yang menarik dalam buku ini. Melalui esai “Bahasa Menentukan Cara Berpikir” (hlm. 83), penulis mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana membentuk cara seseorang memahami dunia. Pesan ini terasa penting ketika ruang digital semakin dipenuhi percakapan singkat yang sering kali mengabaikan kedalaman berpikir.

Buku ini juga menawarkan pelajaran berharga tentang cara menyikapi perbedaan. Ketika masyarakat semakin mudah terbelah oleh pilihan politik, pandangan keagamaan, maupun identitas kelompok, Yunizar justru menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi sumber pembelajaran. Gagasan tersebut tercermin dalam esai “Perbedaan Pendapat Bikin Untung Umat” (hlm. 156), yang mengajak pembaca melihat keragaman pandangan sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Dari sisi penulisan, buku ini memiliki gaya yang ringan dan komunikatif. Yunizar tidak membebani pembaca dengan istilah-istilah akademik yang rumit. Ia lebih banyak bertutur melalui pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Karena itu, pembaca tidak merasa sedang membaca karya ilmiah, melainkan mengikuti percakapan yang mengalir tentang dunia pendidikan dan kehidupan pesantren.

Meski demikian, beberapa tulisan terasa terlalu singkat sehingga menyisakan ruang yang masih dapat dieksplorasi lebih jauh. Pembaca yang terbiasa dengan analisis akademik mungkin berharap penulis mengembangkan sebagian gagasannya secara lebih mendalam. Namun, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai buku ini sebagai kumpulan refleksi yang jujur dan kaya makna.

Buku Hal-Hal yang Tak Diceritakan ketika Bicara Pesantren ini bukan sekadar buku tentang pesantren. Buku ini adalah catatan tentang manusia, pendidikan, dan nilai-nilai yang perlahan mulai terlupakan di tengah kehidupan yang serba cepat.

Melalui cerita-cerita sederhana, Yunizar Ramadhani mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga menumbuhkan empati, penghormatan terhadap perbedaan, dan kemampuan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia. Di situlah letak kekuatan utama buku ini, sekaligus alasan mengapa ia layak dibaca pada masa sekarang.

Identitas Buku

Judul: Hal-Hal yang Tak Diceritakan ketika Bicara Pesantren: Catatan Mengajar di Sekolah (Khusus) Perempuan
Penulis: Yunizar Ramadhani
Penerbit: Afkaruna
Cetakan: Pertama, Januari 2026
Tebal: xviii + 292 halaman

Tinggalkan Balasan