Khidmah: Cara Santri Memperoleh Barokah

“Orang yang mondok dan hanya belajar saja tanpa berkhidmah, maka hasilnya alim. Orang yang mondok dan berwirid saja terus, maka hasilnya kasyaf (bisa melihat hal-hal gaib). Orang yang mondok dan berkhidmah saja, maka hasilnya adalah berkah, barokah. Nah, kalau orang mondok, udah belajar, juga berwirid dan berkhidmah, maka komplit, mendapat semuanya,” lanjut beliau.

Namun, seiring berkembangnya zaman dan teknologi, konsep khidmah mulai luntur di beberapa pondok pesantren. Para santri hanya dituntut untuk belajar. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, guru kadang tidak dihargai, karena para siswa berkeyakinan semuanya dapat diakses dan digali di Google tanpa bersusah payah mendengarkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Konsep barokah hanya ditilik dan diukur dari banyaknya ilmu. Sehingga, mereka yang lebih berilmu, meskipun dari Google sekalipun, dianggap banyak barokahnya. Konsep khidmah perlu ditelaah lagi akar historiografinya, dan perlu diimplementasikan di sekolah-sekolah umum, agar berjalannya pelajaran di kelas menjadi tidak onar seperti kebanyakan berita yang beredar.

Semoga kita dapat berkhidmah kepada semua guru-guru kita, dengan tenaga, harta, dan doa. Karena sebuah pertanyaan yang masih terngiyang-ngiyang di kepala saya hingga saat ini: “Siapa yang dapat menyambungkan kita kepada Kanjeng Nabi kecuali mereka, para guru-guru kita?”

One Reply to “Khidmah: Cara Santri Memperoleh Barokah”

Tinggalkan Balasan