Komunisme, Siapa Takut?

Tokoh yang terakhir, sama seperti Haji Misbach, sempat menggemparkan sekaligus mengkhawatirkan di tahun 20-an terutama di Sumatera Barat. Murid ulama terkemuka di Sumbar, Haji Rasul, yang pernah menjadi guru, salah seorang pemimpin pesantren Thawalib Padang Panjang, dan pelopor berbagai sekolah Islam di Batu Sangkar dan Bukit Tinggi ini secara terang-terangan memproklamasikan diri sebagai komunis.

Fenomena seperti itu terjadi tidak hanya di Indonesia. Gamal Abdul Nasser (Mesir), Muammar Kadhafi (Libya), dan Saddam Hussein (Irak), sekadar menyebut beberapa contoh, adalah para tokoh yang berhasil mengawinkan Islam dengan Marxisme. Konon, beberapa pemikir Islam kontemporer di Iran, seperti Ali Shariati dan kalangan pemuda Mojahidin-I Khalq sangat terpengaruh oleh Marxisme. Bahkan para pemimpin partai Pudeh, pendukung setia Khomaeni dalam menggelar revolusi Iran, sangat kental marxis-nya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Amerika Latin, Katholik berhasil dikawinkan dengan Marxisme-Komunisme. Agama yang paling luas dipeluk dan sangat berpengaruh di seluruh Amerika Latin ini kemudian mendapatkan kegairahan baru cara memandang kekatholikan yang bermuara terumuskannya “Teologi Pembebasan”. Sebuah teologi yang bukan saja mampu menggedor kebekuan umat Katholik di seluruh dunia, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap pemikiran keislaman kalangan muslim di banyak negara. Dalam beberapa hal, sebenarnya seperti itu pula yang dilakukan Mao di Cina. Kemapanan Kong Hu Cu berakibat pada kebekuan dan kejumudan yang dilambangkan dengan tidurnya si naga raksasa. Dan Mao, si naga merah yang mungil justru dapat menelan naga raksasa yang sedang tidur lelap.

Apriori dan keburu nafsu ambil kepastian, apa pun alasannya, memang tak menguntungkan. Dalam konteks ini, mungkin anjuran Mohammad Hatta penting disebut di sini. “Saya menganjurkan kepada bangsa saya agar bersikap terbuka terhadap ajaran-ajaran Marx dan Engels, karena bangsaku sering mendapat gambaran yang pincang; Marx sering digambarkan sebagai perusak mental, politikus fanatik, penghancur agama dan negara”. Dan pada saat yang lain, Hatta juga bilang: “Saya terima ajaran materialism-historis sebagai teori, bukan sebagai dogma”. Sebuah pernyataan yang ternyata sinkron dengan keinginan Karl Marx sendiri ketika ia menandaskan “Saya bukan marxis” kepada marxis-mania yang menelan habis pikiran Marx sebagai ajaran mati. Dan Marx sendiri akhirnya memilih “Kembali ke British Museum” sebagai langkah strategis terakhirnya.

Di sini jelas soalnya bukan pada Marxisme-Komunisme itu sendiri, tetapi pada fanatisme dan ekstremisme. Lenin dan Mao memegang Marxisme dengan harga mati jelas berbeda dengan Karl Marx yang tak mau disebut marxis. Pilihan revolusi sebagai satu-satunya cara mengubah keadaan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diayunkan baik oleh Lenin maupun Mao tak terbetik di benak Karl Marx dan pengikutnya seperti Hatta, Soekarno, Nasser, Samaoen, Datuk Batuah, dan Haji Misbach.

Tetapi fanatisme-ekstrem tidak hanya monopoli Marxisme-Komunisme. Ia bisa berinduk pada apa pun yang dimutlakkan: agama, politik, ekonomi, ras, dan etnik. Agamawan dan politisi bisa tampil garang menghadapi paham atau orang lain yang dipandang tak sesuai dengan dan menyimpang dari apa yang dipercaya oleh mereka sebagai kebenaran. Kita masih ingat bagaimana aksi-aksi sweeping (penggrebekan) kafe, bar, dan karaoke dilakukan serta bagaimana oposisi dipasung dan suara berbeda dibungkam. Rhoma Irama dengan tasbih di tangannya bisa tampil menyeramkan ketika menghadapi Inul, penyanyi desa yang tidak tahu apa-apa kecuali ingin hidup survive. Saling bunuh Dayak-Madura beberapa waktu lalu, lupakan dulu sebab-sebab lain, sangat mungkin kita kembalikan pada fanatisme ekstrem ini.

Tinggalkan Balasan