Dengan parodinya di atas, Ong hendak mengatakan bahwa komunisme kini tak lebih hanyalah sebuah dongeng, nostalgia, dan bagian dari masa lalu. Penghantuan komunisme di Indonesia, di samping sangat politis, sekaligus menunjukkan bahwa kita ketinggalan zaman. Komunisme poros Peking maupun Moskow yang dulu sangat berpengaruh, kini telah redup, bahkan sebagian analis memastikan telah mati justru di negara “pabrik”nya sendiri.
Entah apa yang mau dikata dan dilakukan oleh Lenin dan Mao andaikata mereka menyaksikan kenyataan riil ekonomi Rusia dan Cina sekarang yang tak mungkin menghindar dari kapitalisme global. Entah apa pula respons mereka ketika menyaksikan tembok Berlin dijebol dan diluluh-lantakkan, sehingga Berlin Timur dan Barat yang dulu bertolak belakang menjadi tak berbeda.

Bukan itu saja. Di China, kini dapat kita jumpai beberapa restoran yang sengaja mendesain interiornya termasuk lantai, dengan gambar Mao yang cukup ramai dikunjungi orang untuk bersantai (rekreasi). Di restoran ini, pengunjung termasuk orang-orang China sendiri bercengkerama, bersenda gurau tanpa beban, bahwa kakinya sedang menginjak (gambar) kepala Mao. Sementara di Rusia, Lenin kini telah menjadi patung-patung kecil dari gantungan kunci sampai hiasan meja yang didesain sangat lucu. Patung-patung Lenin itu dengan sangat mudah dapat kita beli di setiap kios souvenir di kota-kota besar Rusia (biasanya dijejerkan dengan patung Stalin).
Mao Zedong menulis pesan kepada istrinya, Jiang Qing. “Kata yang sedikit ini mungkin pesan terakhirku untukmu. Hidup manusia terbatas, tetapi revolusi tak mengenal tepi. Dalam perjuangan selama sepuluh tahun terakhir ini aku telah mencoba puncak revolisi, tapi aku tak berhasil. Kau mungkin bisa mencapai yang tertinggi. Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu akan remuk”. Dan ternyata kegagalan revolusi China benar-benar membuat tubuh dan tulang-tulang komunisme lumat remuk di dasar ngarai.
Lenin dan Mao telah lama tiada. Doktrin komunismenya pun mengiringi kepergian mereka secara pelan tapi pasti. China berubah, begitu pun Rusia dan Eropa Timur pada umumnnya. Kini, Lenin dan Mao tak lebih dari sebuah asesoris yang hanya menguntungkan bagi para pengrajin, pedagang, dan pengusaha restoran. Tak beda dengan lambang Swastika dan foto Hitler lengkap dengan kumisnya yang dijadikan interior sebuah restoran di Soul, Korea Selatan, atau asesoris Jurassic Parknya Steven Spielberg.
Masih takutkah pada Komunisme? Jangan-jangan penghantuan Komunisme di negeri kita tercinta ini sama persis ulah pengrajin-pedagang di Rusia, pengusaha restoran di China dan Korea Selatan. Keduanya sama-sama hanya mengejar untung. Bedanya, mungkin, jika Rusia, Korea Selatan, dan China benar-benar berupa perdagangan murni (ekonomi) dengan komoditi konkret dan kasat mata, sementara di Indonesia lebih berupa perdagangan politik dengan komoditi hantu yang tak kasat-mata dan tak diketahui rimbanya.
