Dalam acara dialog di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) awal tahun 2000, saya – panel dengan HM Sumargono (PBB), HM Nazri Adlani (MUI), dan Munir (Kontras) – ditanya presenter: apakah Anda tidak gusar, marah, dan protes dengan tesis penting Marxisme bahwa Tuhan telah mati (atheis)? Saya jawab: tidak, sama sekali tidak. Karena Tuhan yang diserang, didamprat, dinafikan, atau dibunuh Karl Marx bukan Tuhan saya. Tuhan yang dituju Marxisme adalah tuhan yang menindas kaum buruh, rakyat kecil (konspirasi gereja dan kaum borjuis-kapitalis). Tuhan saya Al-Rohman, Al-Rohim, Maha Adil, menyayangi kaum dhuafa, fuqara, kaum tertindas, dan kaum marjinal. Dan saya yakin ini hingga haq al-yaqin.
