Lebaran Tanpa Ayah

Aku meraih tangannya dan mencium punggungnya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Semua kenangan tentang ayah datang bersamaan tawanya, suaranya, dan cara ia memeluk kami setiap Lebaran. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Adikku ikut menangis di sampingku. Untuk pertama kalinya sejak ayah pergi, kesedihan yang selama ini kami simpan akhirnya keluar begitu saja.

Ruang tamu itu dipenuhi isak tangis yang pelan. Kursi ayah tetap kosong. Namun bayangannya terasa sangat dekat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Siang hari, setelah tamu-tamu mulai berdatangan, rumah kami kembali sedikit ramai. Tetangga datang membawa makanan dan cerita. Anak-anak kecil berlari di halaman seperti tahun-tahun sebelumnya. Ibu terlihat lebih tenang. Sesekali ia tersenyum ketika berbicara dengan para tamu.

Sore harinya, aku berjalan ke pemakaman di belakang masjid. Tanah di sana masih tampak lebih merah dibandingkan yang lain.

Aku berdiri di depan makam ayah cukup lama. Angin sore bertiup pelan, membawa suara anak-anak yang masih bermain di kejauhan.

“Ayah,” bisikku pelan.

Aku teringat semua Lebaran yang pernah kami lalui bersama. dari masa kecil hingga beberapa bulan sebelum ayah sakit.

Semua kenangan itu terasa begitu hidup di kepalaku. Aku membaca doa dengan suara pelan. Setelah selesai, aku menatap langit yang mulai berubah jingga. Lebaran tahun ini memang terasa berbeda.

Tidak ada suara ayah yang memanggil dari ruang tamu. Tidak ada tangannya yang menepuk bahuku setelah salat Id. Namun, untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu. Meskipun ayah tidak lagi berada di rumah, kenangan tentangnya tetap tinggal di setiap sudut kehidupan kami. Di meja makan yang ia buat sendiri. Di halaman tempat ia sering duduk sore hari. Dan di hati kami yang selalu mengingatnya.

Aku menghela napas panjang sebelum berjalan pulang. Lebaran tanpa ayah memang terasa sunyi. Tetapi di dalam doa yang kami panjatkan, ayah terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Sampang, 2026.

Tinggalkan Balasan