Masjid, Musala, dan Masa Depan Kemanusiaan

Di banyak kampung di Indonesia, masjid dan musala tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan ketika azan telah usai dan jamaah pulang ke rumah masing-masing, bangunan sederhana itu tetap menyimpan denyut kehidupan. Di sanalah anak-anak mengaji selepas magrib, para orang tua berbincang selepas salat, pemuda merancang kegiatan kampung, hingga warga berkumpul ketika musibah datang. Masjid dan musala telah lama menjadi ruang yang mempertemukan manusia, bukan sekadar tempat mempertemukan dahi dengan sajadah.

Namun, pelan-pelan ada yang berubah. Kita hidup di zaman ketika hubungan antarmanusia semakin mudah dijalin melalui layar, tetapi semakin sulit dirawat dalam kehidupan nyata. Banyak orang mengenal kabar dunia dalam hitungan detik, tetapi tidak mengetahui bahwa tetangganya sedang sakit atau kesulitan. Kita semakin akrab dengan notifikasi, tetapi semakin asing dengan sapaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perubahan ini tidak hanya menggeser cara kita berkomunikasi, tetapi juga cara kita memaknai kebersamaan. Individualisme tumbuh tanpa banyak disadari. Kesibukan menjadi alasan untuk menutup pintu, sementara kepedulian perlahan dipersempit menjadi urusan pribadi.

Padahal, masyarakat tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, melainkan oleh mereka yang bersedia meluangkan waktu untuk orang lain. Di titik inilah masjid dan musala menemukan kembali relevansinya.

Tinggalkan Balasan