Sebaliknya, kaum Quraisy di Makkah adalah pihak yang memusuhi, mengusir, dan memerangi Nabi selama belasan tahun. Namun, ketika Makkah berhasil dikuasai dan stabilitas baru mulai dibangun, dunia menyaksikan sebuah keputusan mengejutkan dari Nabi Muhammad SAW. Beliau justru banyak memberikan posisi penting, jabatan gubernur, hingga porsi ghanimah (harta rampasan perang) yang besar kepada tokoh-tokoh Quraisy yang baru masuk Islam, seperti Muawiyah bin Abu Sufyan atau Attab bin Asid.
Bagi sebagian kaum Anshar yang melihat dengan kacamata kemanusiaan biasa, keputusan ini sempat menimbulkan riak kekecewaan. Mereka merasa seolah-olah setelah kemenangan diraih, pengorbanan mereka dilupakan demi merangkul mantan musuh dan saudara kampung halaman..

Esensi Logika Nubuah: Kompetensi dan Kemaslahatan Publik
Nabi Muhammad SAW segera meluruskan kesalahpahaman tersebut. Logika nubuah tidak bekerja atas dasar transaksional personal atau utang budi, melainkan atas dasar kemaslahatan umat (maslahat al-ammah) dan efektivitas kepemimpinan.
Kaum Quraisy Makkah, terlepas dari masa lalu mereka, memiliki pengalaman empiris dalam diplomasi antarbangsa, manajemen makro, dan tata kelola administrasi wilayah yang tidak dimiliki secara mendalam oleh kaum Anshar yang berlatar belakang agraris (petani kurma). Nabi memahami bahwa untuk mengelola imperium Islam yang kian membesar, dibutuhkan orang-orang dengan kecakapan yang mumpuni untuk pos-pos tertentu.
Sedangkan, kaum Anshar memiliki status lebih tinggi secara makna, yaitu sebagai penolong Nabi dan sahabatnya. Nabi Muhammad tidak ingin status sebagai penolong Nabi berubah menjadi peminta harta dan jabatan kepada Nabi sebagai imbalan. Oleh karena itu, ketika Nabi SAW mendengar rasa kekecewaan dari kaum Anshar, Nabi Muhammad SAW langgsung mengumpulkan mereka dalam sebuah tenda, dan disanalah Nabi SAW menyampaikan pesan yang mendalam.
Nabi Berkata: “Wahai kaum Ansar, telah sampai kepadaku desas-desus dari kalian… Bukankah dahulu aku mendatangi kalian dalam keadaan tersesat, lalu Allah memberikan hidayah kepada kalian lewat perantaraanku? Bukankah kalian dahulu miskin, lalu Allah membuat kalian berkecukupan lewat perantaraanku? Bukankah kalian dahulu bermusuhan, lalu Allah menyatukan hati kalian lewat perantaraanku?”
