Naskah-naskah yang sempat saya baca, atau tulisan-tulisan untuk rubrik “Sosok” yang tak dirilis, pada umumnya hanya berisi bagian ketiga ini, dan melupakan unsur pertama dan kedua. Itu pun, isinya lebih banyak puja-puji alih-alih penilaian atau pandangan objektif. Itulah yang membuatnya lebih menyerupai “barzanji” ketimbang biografi.
Pentingnya Biografi

Pada umumnya, bahan-bahan untuk penulisan biografi didapat melalui dua cara, riset dan wawancara. Riset dilakukan dengan menelisik dokumen, berita media, atau catatan sejarah. Wawancara bisa dilakukan dengan langsung kepada subjeknya, keluarganya, orang-orang terdekatnya, atau orang-orang yang mengenalnya.
Penyusunannya bisa dilakukan dengan pendekatan kronologis, yang menceritakan kisah secara urut dari masa kanak-kanak, remaja, hingga masa tua. Atau, bisa juga dengan pendekatan tematik. Jika ini yang dipilih, penyusunannya berdasarkan tema atau aspek tertentu tanpa terikat urutan waktu yang kaku.
Penulisan biografi terbilang penting, sangat penting bahkan, agar kiprah dan peran seseorang terabadikan dalam sejarah sebagai pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya. Atau, yang tak kalah penting, untuk menghindari “manipulasi” atau “penyesatan” sejarah.
